PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DAN KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF
TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV
SDN ......................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Berdasarkan undang-undang nomor 20
tahun 2003 pasal 3 dijelaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk
memfasilitasi tumbuh kembang siswa dalam melejitkan potensi diri agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, memilki kecakapan hidup, bersifat kreatif, berperilaku mandiri
dan bertanggung jawab.
Pencapaian misi pendidikan tentu tidak mudah, dibutuhkan perjuangan
serta berbagai cara dalam mewujudkannya. Proses belajar mengajar diupayakan
mendorong siswa untuk mempunyai kemampuan berfikir kreatif, pemecahan masalah
dan dapat beradaptasi dengan kemajuan zaman. Namun pada pelaksanaannya
terkadang tidak sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Banyak
permasalahan-permasalahan yang ditemui selama proses pembelajaran di kelas.
Contoh masalah yang sering dialami adalah rendahnya daya dukung siswa, model
pembelajaran yang membosankan dan keterampilan berfikir kreatif yang rendah.
Munculnya masalah tersebut tentu harus dicari penyelesaiannya supaya tujuan
pembelajaran dapat tercapai.
Kemendikbud mencatat hasil studi PISA (2018) bahwa siswa Indonesia
mempunyai tingkat apresiasi dalam single
text dan multiple text yang
rendah. Dapat dikatakan bahwa siswa di Indonesia mempunyai kemampuan untuk
menelusuri informasi, menilai serta menerapkannya, akan tetapi mereka tidak
mampu dalam tahap menganalisa informasi (Kemendikbud, 2019). Berdasarkan studi
tersebut membuktikan jika kapasitas berpikir siswa yang ada di Indonesia masih rendah.
Kualitas sumber daya manusia menentukan kemajuan suatu negara. Hal
tersebut tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
tahun 2019-2024 bahwa tujuan yang terkandung dari program pemerintah Indonesia
mengenai pemberdayaan SDM (Sumber Daya Manusia) dengan meningkatkan mutu
pendidikan di Indonesia. Fungsi pendidikan adalah suatu hal yang sangat
dibutuhkan untuk menciptakan masyarakat bijaksana, tentram, transparan serta
demokratis. Sehingga dibutuhkan pembaharuan dalam bidang pendidikan untuk dapat
meningkatkan mutu pendidikan pada suatu negara. Indonesia akan menjadi negara
maju jika kualitas di bidang pendidikan meningkat.
Salah satu upaya pemerintah dalam
meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia adalah dengan membekali guru
melalui berbagai pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru
dalam proses pembelajaran. Guru bergerak pada sektor formal bernama sekolah
yang merupakan tempat terbaik untuk memperoleh pendidikan berkualitas tinggi.
Harapan ke depan, guru dapat melahirkan siswa-siswi berkualitas yang mampu
beradaptasi dengan kemajuan zaman dan mampu bersaing dengan negara maju
lainnya.
Pendidikan secara formal adalah hak yang harus diterima
oleh seluruh anak di Indonesia. Karena pendidikan merupakan upaya dalam
mempersiapkan generasi penerus melalui arahan, pembelajaran serta bimbingan
supaya anak mampu untuk menjalankan fungsinya di masa yang akan datang. Proses
pembelajaran di
sekolah seyogyanya dilaksanakan oleh guru yang berkualitas dan mempunyai
kompetensi di bidangnya agar dapat mewujudkan siswa bermutu. Mutu
pendidikan dapat dilihat dari keberhasilan proses belajar dan diukur melalui hasil
belajar berupa peningkatan pengetahuan, perubahan sikap sosial dan bertambahnya
keterampilan yang
dimiliki siswa ketika mereka selesai mengikuti pembelajaran di sekolah.
Sudjana (2009:22), hasil belajar siswa terdiri dari
keterampilan dan kemampuan yang diperoleh sebagai hasil dari pengalaman
pendidikannya. Hasil belajar merupakan keterampilan yang diperoleh anak melalui sekolah,
sebagaimana dikemukakan oleh Jihad dan Haris (2012: 14). Ditambahkan
pula kemampuan seorang
siswa dalam belajar adalah segala sesuatu yang menjadi miliknya sebagai hasil dari upaya
pendidikannya. Hasil belajar adalah peningkatan pengetahuan, pemahaman,
disposisi, dan kemampuan dan usaha yang telah diraih oleh siswa dari kegiatan belajar
mengajar yang efektif.
Setelah mempelajari sesuatu, kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor
seseorang dalam situasi tertentu mengalami perubahan seiring dengan berjalannya
waktu dengan pemaparan
materi secara berkelanjutan..
Bloom (2014), hasil belajar dikumpulkan di tiga domain:
kognitif, afektif, dan psikomotor.Menurut Teni Nurrita (2018), seorang siswa
menerima hasil belajar berupa evaluasi setelah mengikuti proses pengajaran,
dengan evaluasi tersebut mempertimbangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan
siswa serta setiap perubahan yang dapat diamati pada tingkatannya. kompetensi.
Sjukur(2012) berpendapat bahwa hasil belajar berfungsi sebagai
ukuran keberhasilan proses pembelajaran dan perolehan pengetahuan dari waktu ke
waktu, dan bahwa hasil ini akan dipertahankan untuk masa mendatang dan
seterusnya karena pentingnya hasil ini dalam membentuk tipe orang yang
dicita-citakan pembelajar, adalah adil untuk mengatakan bahwa hasil belajar
memainkan peran integral dalam membentuk tipe orang yang menjadi baik.
Hasil belajar siswa dapat
ditetapkan berdasarkan kurikulum yang digunakan. Kurikulum sekolah berfungsi sebagai
panduan tentang bagaimana pengajaran harus dilakukan dan tongkat pengukur
seberapa baik siswa belajar. Tujuan kurikulum adalah membuka
peluang kepada siswa sebagai peserta didik dan guru sebagai pendidik agar tumbuh dan berkembang secara
berkelanjutan dan saling menguntungkan. Tujuan pengembangan kurikulum adalah memanifestasikan harapan pendidikan nasional dengan melayani siswa pada tahap perkembangannya
masing-masing dan memenuhi kebutuhannya yang spesifik dalam hal lingkungan,
kebutuhan pembangunan nasional, pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
relevan, dan penanaman ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna. ciri-ciri
karakter untuk disiplin khusus masing-masing sekolah. Kurikulum dikembangkan
sesuai dengan standar tingkat pendidikan dan modalitas pengajaran.
Tujuan Kurikulum 2013 yang sedang dilaksanakan adalah mendidik dan melatih
masyarakat Indonesia agar “beriman”, “produktif”, “kreatif”, “inovatif”, dan
“afektif”, serta “mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat,
bangsa , dan kehidupan dunia (Permendikbud, No. 69 Tahun 2013).
Negara berharap siswa akan memperoleh
berbagai keterampilan. Kemampuan ini meliputi pemikiran kritis, pemecahan
masalah secara kreatif, kemampuan untuk bekerja dengan baik dengan orang lain,
kemampuan untuk berkolaborasi, serta rasa percaya diri yang sehat. Ada lima hal yang dikatakan
pemerintah yang menjadi target karakter siswa, dan itu semua berdampak pada
cara kita menilai siswa dalam ujian nasional dan inilah krisis abad ke-21 (Ariyana,
2018).
Sistem pendidikan Indonesia saat ini lebih banyak
memperkuat fungsi otak kiri (intelektualitas). Sedangkan perkembangan otak kanan(kreativitas) belum berkembang
hampir sejauh ini (Tampubolon & Syahputra, 2018). Seseorang
fungsi otak kanan sering untuk digunakan akan mempunyai kecenderungan daya
kreativitasnya dalam menyelesaikan permasalahan. Mereka akan lebih mengandalkan
naluri, mampu menganalisa keadaan menyeluruh secara cepat.
Kementerian Pendidikan Republik
Indonesia (2010:10) mendefinisikan berpikir secara kreatif sebagai "proses
menghasilkan cara baru dalam melakukan sesuatu atau hasil yang berbeda dengan
menggunakan sumber daya yang sudah ada". Kreativitas siswa di kelas dapat diukur dengan
membina lingkungan yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif,
serta dengan memberikan tugas yang mendorong pengembangan karya seni asli atau
adaptasi inventif dari karya seni yang ada.
Para ahli telah mengidentifikasi sejumlah karakteristik
yang harus dimiliki siswa yang sedang mengembangkan keterampilan berpikir
kreatifnya. Salah satunya adalah kemampuan berpikir cepat, luas, dan mandiri,
sebagaimana digariskan oleh Munandar (2012: 192) adalah 1) pemikiran yang jernih;
seseorang yang dapat mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan sampai pada
penjelasan dan solusi yang masuk akal untuk masalah Seseorang yang (2) mampu
berpikir luas dan menghasilkan berbagai kemungkinan jawaban atas sebuah
pertanyaan, mampu berpikir kreatif dan menghasilkan bacaan dan wawasan menarik dari
sumber informasi yang sudah dikenal, dan mampu berpikir kreatif dan
menghasilkan wawasan baru dan menarik dari sumber informasi yang sudah dikenal,
dikatakan (4) mampu berpikir asli. Karena itu, siswa memiliki waktu yang
lebih sulit untuk menghasilkan ide dan solusi orisinal untuk masalah, dan
mereka juga memiliki waktu yang lebih sulit secara umum tidak hanya
mengembangkan keterampilan pemecahan masalah mereka sendiri, tetapi juga dalam
menerapkannya ketika mereka menghadapi hambatan.
Susanto (2013:110) berpendapat bahwa berpikir kreatif adalah proses yang mencakup
unsur-unsur seperti orisinalitas, struktur, kemampuan beradaptasi, dan
elaborasi. Keadaan
ini menunjukkan bahwa berpikir kreatif dapat mendorong pengembangan kapasitas
mental yang luas yang mampu merangkum dunia secara keseluruhan dari berbagai
sumber yang unik.
Mempunyai pemikiran secara
kreatif akan mampu menciptakan suatu pemikiran berkualitas. Pendapat dari Sani (2014:15)
mengemukakan yaitu berpikir secara kreatif adalah keterampilan dalam menuangkan
gagasan yang hebat, bermutu serta sesuai dengan apa yang ditugaskan. Keadaan
ini adalah bentuk pengembang diri dari gagasan-gagasan terbaru yang berkualitas
tinggi. Agar keterampilan berpikir secara kreatif berkembang cara yang dapat
ditempuh untuk meningkatkannya adalah dengan menghasilkan pembelajaran
berkualitas dan pembelajaran dengan memperlibatkan siswa dengan aktif.
Mata pelajaran ilmu pengetahuan
sosial sebagai
salah satu mata pelajaran yang membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai komunitas dan
menjadikan nilai-nilai itu sebagai bagian dari tindakan mereka sehari-hari dalam
kehidupan. Harapan untuk meningkatkan kemampuan
berpikir kreatif dan komunikasi siswa untuk interaksi sosial sehari-hari,
pendidikan harus dilakukan dengan presisi, baik dari pihak guru dan siswa. Model
pembelajaran yang dibutuhkan adalah yang dapat memfasilitasi untuk
berkembangnya kemampuan berpikir, terutama kemampuan berpikir dengan kreatif (Sulaeman, 2016:3).
Model pembelajaran berbasis proyek adalah salah satu
model yang mendukung kurikulum 2013; itu ditandai dengan fokus pada proses
daripada produk, kerangka waktu yang lebih lama, konsentrasi pada masalah
daripada metode, dan keterlibatan siswa dalam memecahkan masalah melalui
inkuiri akademik. Pengembangan Kurikulum Berdasarkan Model Pengalaman
Paradigma pembelajaran berbasis proyek adalah paradigma yang menekankan pada
partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Kemampuan siswa untuk
berpikir kreatif dan memecahkan masalah dikembangkan melalui partisipasi dalam
proyek.Penting
untuk memiliki guru yang kreatif yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mengembangkan kreativitas mereka sendiri untuk mengatasi krisis
kreativitas.
Sulaeman (2016:5) mengemukakan bahwa model pembelajaran berbasis
proyek adalah metode pengajaran dimana siswa memecahkan masalah dan memperluas
topik yang tercakup dalam materi pelajaran melalui implementasi proyek dunia
nyata. Inovasi pembelajaran berbasis proyek ini mendorong siswa untuk
mengembangkan kreativitas, inisiatif, tanggung jawab, kepercayaan diri, dan
keterampilan berpikir kritis dan analitis mereka.
Menurut Kerangka Pelaksanaan
Kurikulum 2013 (2018: 42), pembelajaran berbasis proyek yaitu setiap kegiatan
pendidikan di mana seorang siswa mengerjakan proyek dunia nyata sebagai bagian
dari proses pembelajaran untuk memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan sikap.
dicakup oleh kurikulum.Fokus pendidikan adalah upaya siswa untuk menciptakan produk dengan
menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka di berbagai bidang seperti
penelitian, analisis, konstruksi, dan presentasi, yang semuanya diinformasikan
oleh pengalaman dunia nyata. Siswa diharapkan membuat proyek yang berhubungan dengan
materi pelajaran terkait dalam model pembelajaran ini.
Penerapan model pembelajaran berbasis
proyek, ide
siswa digunakan untuk membuat proyek yang menawarkan metode alternatif untuk
memecahkan masalah disiplin tertentu, memungkinkan siswa untuk belajar melalui
pengalaman langsung bagaimana memecahkan masalah yang dihadapi. Salah satu manfaat dari teknik
pengajaran ini adalah dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan pemecahan
masalah siswa, seperti dikemukakan oleh Majid dan Chaerul
(2014:164).Keterampilan memecahkan masalah adalah bagian penting dari berpikir
kreatif. Ini menunjukkan bagaimana salah satu manfaat dari paradigma
pembelajaran berbasis proyek dapat memicu keterampilan berpikir inovatif siswa. Disisi lain, ada beberapa
kelemahan dalam menggunakan paradigma pembelajaran berbasis proyek, seperti
kenyataan bahwa hal itu membutuhkan instruktur yang berkualifikasi tinggi yang
juga bersemangat untuk belajar, serta sumber daya yang luas, termasuk uang dan
waktu, serta peralatan dan bahan khusus. Siswa yang mudah terdistraksi, kurang
pengetahuan dan keterampilan, dan sulit bekerja dalam kelompok tidak akan mendapat
manfaat dari metode pengajaran ini.
Pada obervasi awal di sekolah dasar
negeri ...................... Kabupaten
Tangerang yang dilakukan oleh peneliti, diketahui bahwa dari 28 guru yang
ada, 60% guru masih
melaksanakan proses belajar mengajar dengan berceramah tanpa menggunakan model
pembelajaran,
sehingga keadaan tersebut menjadikan pendidik lebih mendominasi pembelajaran dan
kurang melibatkan aktifitas siswa. Saat pembelajaran berlangsung, siswa cenderung
pasif, lebih banyak menyalin materi dari buku dan mengisi latihan-latihan yang
ada pada Lembar Kerja Siswa.
Hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru kelas
IV pada 14 Juni 2022 mengungkapkan bahwa siswa di sekolah tersebut memiliki
tingkat berpikir kreatif di bawah rata-rata. Hal ini dapat dilihat dari
keengganan siswa untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan jawaban yang
panjang terhadap suatu masalah tertentu. Bahkan para siswa tampaknya
tidak menemukan ide, jawaban, atau pertanyaan yang menarik. Pada saat menjawab
pertanyaan, siswa tidak menawarkan tanggapan yang berbeda dari yang biasanya
diberikan oleh sebagian besar orang. Selain itu, siswa tidak dapat memusatkan
perhatian pada satu solusi untuk suatu masalah.
Sementara kurikulum yang
digunakan di SD Negeri ...................... masih tahun 2013 dengan beberapa
penyesuaian tematik, peneliti memfokuskan pada materi pelajaran IPS. Hasil
belajar pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial akan diperoleh hasil nilai
harian, sedangkan nilai akhir semester berisi nilai-nilai rata-rata nilai
harian serta ketuntasan. Untuk nilai harian diperoleh skor rata-rata nilai 60%
dengan siswa tuntas 40,91%. Nilai akhir semester dengan pencapaian sebesar
62,84 dan siswa tuntas 36,36%. Keadaan tersebut tidak sesuai dengan KKM yang
sudah ditetapkan untuk mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial kelas 4 yaitu
sebesar 70.
Selain wawancara, peneliti juga melihat langsung untuk membuktikan
fakta tersebut melalui observasi pengenalan praktik lapangan terhadap siswa
pada proses pembelajaran. Hasil observasi menunjukkan kelas tersebut rendah
dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, khususnya pada mata pelajaran
IPS. Ketika pembelajaran berlangsung terlihat dari siswa yang tidak dapat
memecahkan masalah yang diberikan oleh guru, sulit mengeksplor ide-ide atau
gagasannya dalam pembuatan suatu produk usaha, sulit mengungkapkan jawaban yang
berbeda dengan yang lain, sulit menghasilkan karya baru dalam pembuatan produk
usaha, sulit mempertahankan ide atau gagasannya sendiri serta siswa terus
menerus disuapi materi saja tanpa adanya suatu kegiatan bermakna untuk
mengembangkan ide dan keterampilan yang dimiliki siswa.
Model pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpikir
kritis dan kreatif semakin banyak digunakan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun hasil temu lapangan menunjukkan bahwa masih banyak guru yang menggunakan
paradigma pengajaran berpusat pada guru sehingga menghambat kemampuan berpikir
kreatif siswa. Pendekatan pendidikan yang berpusat pada guru ini tidak banyak
mendorong upaya siswa untuk mengasah pemikiran kreatif dan kapasitas imajinatif
mereka.
Penelitian Puspita (2019) memberi penjelasan bahwa proses belajar berjalan
lancar ketika semua faktor yang relevan diperhitungkan, seperti tujuan kursus,
materi pelajaran, dan strategi pembelajaran. Agar siswa dapat mencapai
tujuan pembelajaran, guru harus mampu mengintegrasikan konten dan perilaku siswa yang
relevan. Salah satu pendekatan tersebut adalah penerapan Model Pembelajaran
pembelajaran berbasis proyek (PjBL), yang telah terbukti meningkatkan hasil belajar siswa
dan kemampuan pemecahan masalah kreatif mereka.
Febrianty (2020) menyatakan bahwa
kreativitas siswa
tidak rendah, hal tersebut disebabkan kurangnya kemampuan guru untuk mengorganisisr
kreatifiitas siswa selama proses belajarnya. Pengajaran konvergen, sikap dan
keyakinan guru tentang kreativitas siswa, motivasi lingkungan, dan keyakinan
siswa sendiri tentang potensi kreatif mereka. Hal tersebut berperan dalam pengembangan imajinasi
dan orisinalitas siswa. Sehingga dibutuhkan keterampilan guru untuk mengembangkan strategi
pengajaran dan model kelas yang meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa
sehingga tujuan tersebut dapat terwujud. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa
keterampilan berpikir kreatif mereka meningkat saat dihadapkan pada kerangka
pembelajaran berbasis proyek, dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan
menggunakan metode ceramah.
Kusadi(2020) menjelaskan dalam jurnal penelitiannya bahwa model
pembelajaran berbasis proyek paling sesuai dengan karakteristik pendidikan IPS,
serta tujuan dan laju perubahan sosial saat ini. Salah satu metode pengajaran
inovatif yang menekankan pembelajaran kontekstual dan partisipasi siswa dalam
proyek penelitian kolaboratif dengan dicapai melalui aktivitas menantang yang
pada gilirannya memotivasi siswa untuk lebih proaktif dan banyak akal dalam
mengejar tujuan pembelajaran adalah model pembelajaran berbasis proyek.
Pembelajaran berbasis proyek adalah pendekatan inovatif
untuk pendidikan yang menempatkan siswa sebagai pusat proses pembelajaran dan
memposisikan guru sebagai fasilitator dan motivator. Dalam model ini, siswa
lebih diberi tanggung jawab atas pendidikannya sendiri dan didorong untuk
bekerja secara mandiri. Siswa diperkenalkan dengan masalah secara langsung
dalam model pembelajaran berbasis proyek, dan kemudian mereka berlatih
menyelesaikannya melalui pekerjaan proyek aktif, meskipun tidak langsung, yang
melatih mereka untuk berpikir kreatif dan memecahkan masalah dengan cara baru.
Niswara (2019), berpendapat bahwa kreativitas siswa harus diakui
dengan cara yang adil dan akurat, dengan penilaian yang memperhitungkan nilai
akhir dan penilaian kemajuan yang berkelanjutan. Salah satu cara untuk mencapai
tujuan ini adalah dengan memasukkan lebih banyak pemikiran kritis ke dalam
proses pengajaran dan penilaian. Melihat situasi seperti itu, langkah
selanjutnya adalah mengubah strategi pengajaran, karena ada banyak model dan
metode pengajaran baru yang sangat efektif dalam kurikulum 2013, terutama untuk
siswa sekolah dasar, yang telah terbukti mendapat manfaat besar dari paparan
mereka. Salah satu model tersebut adalah model pembelajaran berbasis proyek,
yang didasarkan pada gagasan bahwa siswa belajar paling baik ketika mereka
memiliki masalah dunia nyata untuk dipecahkan.
Permasalahan-permasalahan yang
telah dijabarkan pada alenia di atas, penulis tertarik untuk dapat mengadakan penelitian
lebih lanjut mengenai Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kemampuan Berfikir Kreatif Terhadap Hasil
Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV SDN ....................... Diharapkan
peneliti mampu menganalisis dampak penggunaan model pembelajaran berbasis proyek
dan kemampuan berpikir kreatif terhadap kinerja siswa pada mata kuliah IPS
sebagai hasil dari penelitian ini.
B. Identifikasi Masalah
Permasalahan yang dapat peneliti
kumpulkan dan identifikasi agar tidak menjadi meluas adalah.
1. Hasil belajar
mata pelajaran IPS di SDN ...................... rendah.
2. Kemampuan
berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran IPS rendah.
3. Model
pembelajaran yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar menggunakan model
konvensional.
4. Suasana
pembelajaran terkesan hening dan siswa tidak aktif selain kegiatan mencatat
materi dari guru.
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang hendak diteliti sebagai
berikut.
1.
Apakah ada pengaruh
model pembelajaran berbasis
proyek dengan
hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Kelas IV sekolah dasar negeri ......................
?
2.
Apakah ada pengaruh kemampuan berpikir kreatif dengan hasil
belajar siswa dada mata pelajaran IPS kelas IV sekolah dasar
negeri ...................... ?
3.
Apakah ada pengaruh model pembelajaran berbasis
proyek dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil
belajar siswa pada mata pelajaran IPS Kelas IV sekolah dasar
negeri ...................... ?
D. Tujuan Penelitian
1.
Menganalisa pengaruh model pembelajaran berbasis proyek dengan
hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Kelas IV sekolah dasar negeri
Tigaraksa.
2.
Menganalisis pengaruh kemampuan berpikir dengan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran IPS kelas IV sekolah dasar negeri .......................
3.
Menganalisis interaksi model pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil
belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV sekolah dasar
negeri .......................
E. Kegunaan Penelitian
1.
Secara Teoritis
a.
Memberikan
kontribusi atau sumbangan pada pengembangan model pembelajaran berbasis proyek di
Sekolah Dasar.
b.
Memberikan
informasi kepada guru di tempat penelitian, bahwa penelitian bermanfaat dalam
meningkatkan proses pembelajaran.
c.
Mengembangkan
kajian teori terkait dengan model pembelajaran berbasis proyek, berpikir
kreatif, dan keterkaitannya dengan mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar.
d.
Menambah
pemahaman dan pengetahuan dan sebagai bahan implementasi dalam menerapkan model
pembelajaran dalam pembelajaran IPS.
2.
Secara Praktis
a.
Peneliti
Mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menerapkan
paradigma pembelajaran berbasis proyek di kelas 4 sekolah dasar
negeri Tigaraksa
berdampak pada hasil belajar siswa dan kapasitas mereka untuk pemecahan masalah
secara kreatif.
b.
Siswa
Penggunaan model pembelajaran berbasis
proyek bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar,
menjadikan proses pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan, memberi stimulus
pada keterampilan berfikir kreatif melalui sebuah proyek pada mata pelajaran
IPS.
c.
Guru
Mampu dipergunakan oleh pendidik sebagai rujukan dalam menggunakan sumber belajar
model pembelajaran berbasis proyek .
d.
Peneliti lain
Dapat dipergunakan sebagai bahan studi
perbandingan atau bahan rujukan untuk peneliti-peneliti selanjutnya.
e.
Bagi Sekolah
Dapat menjadi acuan dalam mengembangkan sumber belajar
dan metode pembelajaran berupa model pembelajaran berbasis
proyek .
f.
Institusi Pendidikan
Memberikan landasan dan informasi yang tepat
mengenai model pembelajaran yang tepat dan berhasil guna.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1.
Hasil Belajar
a.
Pengertian Hasil Belajar
Secara harfiah hasil belajar merupakan
pengalaman dari siswa berupa hasil aktivitas belajar yang telah dilakukan. Sejauh mana siswa mengalami perubahan pengetahuan
tergantung dari proses belajar dan kemampuan kognitif dalam pemahamannya pada
materi pelajaran. Untuk mengukur hasil belajar pada aspek pengetahuan, dapat mengunakan
instrumen tes hasil belajar dengan cara melakukan tes di akhir kegiatan
pembelajaran atau dapat dilakukan pada setiap akhir semester. Perolehan hasil
belajar tiap-tiap individu akan berbeda karena hal tersebut terkait dengan
proses belajar yang telah dilewatinya.
Hasil belajar adalah kemampuan dari seorang
siswa setelah melalui kegiatan belajar,” (Sudjana, 2009:22). Menurut
Abdurrahman (dalam Jihad & Haris, 2012:14),
Hasil belajar adalah kecakapan yang didapat siswa setelah melewati suatu
kegiatan yang disebut dengan belajar. Sumber lain mengatakan, Hasil belajar
adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai hasil dari kegiatan
pendidikan siswa (Juliah, Jihad dan Haris, 2012, hlm. 15). Penjelasan mengenai definisi dari hasil
belajar adalah peningkatan dari kemampah kognitif, pemahaman, tingkah laku, dan
keterampilan yang diperoleh seorang individu sebagai hasil dari terlibat dalam
proses pembelajaran.
Hasil belajar individu merupakan hasil dari
perubahan tingkat kemampuan pada bidang kognitif, bidang afektif, dan bidang
psikomotor subjek yang dikaitkan dengan konteks tertentu sebagai akibat dari
pengalaman belajar yang berulang. Menurut Benjamin S. Bloom (dalam Jihad dan
Haris, 2008: 14-15), "hasil belajar dapat dikategorikan menjadi tiga
kategori besar: kognitif, afektif, dan perilaku." Menurut Nurrita (2018),
siswa mendapatkan umpan balik atas hasil belajar mereka dalam bentuk nilai
setelah berpartisipasi dalam proses belajar mengajar dengan menilai tingkat
pengetahuan, sikap, dan keterampilan mereka sendiri dalam kaitannya dengan
rekan-rekan mereka dan dunia di besar. Mengikuti keyakinan (Sjukur, 2012) bahwa
hasil belajar adalah evaluasi dari titik
ujung suatu kegiatan pembelajaran yang berulang sehingga pengetahuan yang
diperoleh akan disimpan di masa mendatang, hasil belajar memainkan peran
penting dalam membentuk seseorang menjadi seperti apa.
Hasil belajar adalah wujud intrepretasi yang suatu
bukti yang berkaitan dengan seseorang telah memperoleh pengetahuan dan
keterampilan baru, yang ditunjukkan dengan adanya pergeseran perilaku dari
seseorang yang sdang dalam tahapan belajar dari tidak memahami menjadi paham
dan dari tidak mengetahui menjadi mengetahui (Hamalik 2014:30). Keberhasilan seorang siswa diukur dengan
sejauh mana ia mampu berpindah dari keadaan ketidaktahuan atau ketidaktahuan
tentang suatu mata pelajaran ke salah satu pengetahuan atau pengetahuan tentang
mata pelajaran itu sebagai hasil dari terlibat dalam proses pembelajaran.
Menurut Susanto (2015:5), hasil belajar siswa adalah keterampilan yang
diperolehnya sebagai hasil dari proses belajar yang dilakukannya. Karena
belajar adalah tindakan yang diambil oleh seseorang yang mencoba untuk
menghasilkan perubahan yang langgeng dalam perilaku dan cara pandangnya. Baik
kegiatan di dalam kelas atau di luar kelas, tujuan pembelajaran ditetapkan guru
sebagai target capaian pada satu materi pelajaran. Siswa dianggap berhasil jika
mereka mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan atau lebih dikenal sebagai
"tujuan instruksional" pembelajaran.
Menurut Purwanto (2014:44), dua kata “hasil” dan
“belajar” membentuk istilah “hasil belajar” yang dapat dipahami dengan
menyatukan keduanya. Dalam istilah fungsional, istilah "produk"
mengacu pada hasil akhir dari setiap tindakan atau prosedur yang memerlukan
pengeluaran beberapa sumber daya. Komoditas yang dihasilkan merupakan hasil
akhir dari upaya mengubah sumber daya mentah menjadi produk jadi (finished goods).
Berdasarkan definisi
hasil belajar yang diberikan di atas, dapat dikatakan bahwa hasil belajar yang dimaksud adalah perubahan perilaku
siswa pada ranah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang ditetapkan melalui
penilaian pada akhir proses pembelajaran. Sedangkan pada penelitian ini
difokuskan untuk menganalisis pada ranah pengetahuan yang dinyatakan dalam
skor yang diperoleh dari hasil kegiatan
atau proses belajar mengajar.
b.
Unsur-Unsur yang Berpengaruh pada Hasil Belajar
Keberhasilan dalam belajar dipengaruhi oleh
beberapa unsur, baik yang berasal dari dalam diri siswa sendiri maupun
unsur-unsur diluar diri siswa. Dari pendapat yang dikemukakan oleh Slameto
(2013) dapat diketahui tentang unsur-unsur yang berpengaruh terhadap hasil
belajar diantaranya :
1)
Unsur internal
a)
Unsur jasmani
b)
Unsur psikis
2)
Unsur eksternal
a)
Unsur keluarga
b)
Unsur sekolah
c)
Unsur masyarakat
Menurut Sudjana dan Rivai (2001:39), masalah kesehatan
siswa dan kondisi fisik umum mereka adalah salah satu faktor lingkungan yang
secara signifikan mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar, sedangkan
paparan kelompok yang terakhir terhadap bencana alam juga membuat perbedaan. Tujuh puluh persen prestasi
akademik siswa di madrasah bergantung pada kemampuan siswa, sedangkan
lingkungan hanya berpengaruh pada prestasi akademik hingga 30 persen.
Sedangkan
Hasan (1994:94) menjelaskan tentang unsur-unsur yang dapat berpengaruh terhadap
aktivitas belajar yaitu:
1)
Faktor
yang muncul dari diri sendiri atau bisa disebut unsur individu dalam unsur
perkembangan kematangan fisik, intelegensi dan unsur yang muncul secara pribadi.
2)
Faktor eksternal individu, yang
kita sebut sebagai faktor sosiokultural, termasuk keluarga dan pengaturan
tempat tinggal, metode pengajaran, bahan ajar, pengaturan kelas fisik,
ketersediaan waktu dan ruang untuk belajar, dan motivasi pribadi dan sosial
guru dan siswa.
Unsur-unsur yang berpengaruh pada prosedur dan hasil belajar
pada seorang siswa secara ringkas sebagaimana pendapat Sabri (2010:59-60)
adalah :
1)
Unsur dalam diri siswa
a)
Unsur fisiologis siswa, termasuk kesehatan mereka dan ada atau tidak
adanya penyakit fisik, serta keadaan mental mereka, terutama kemampuan mereka
untuk melihat dan mendengar.
b)
Unsur psikologis siswa, seperti minat, antusiasme, pemahaman,
dan motivasi mereka, serta kemampuan kognitif mereka, yang mencakup hal-hal
seperti kemampuan mereka untuk memahami, mengingat, dan bernalar, dan pemahaman
mereka tentang informasi mendasar.
2)
Unsur-unsur dari luar siswa
a)
Unsur Lingkungan
Unsur ini dapat dibagi menjadi dua
kategori: pertama, lingkungan seperti cuaca dan kualitas udara; kedua, sosial
seperti lokasi masjid atau sekolah; dan ketiga, teknologi seperti kemajuan
teknologi komunikasi dan transportasi. Kedua, komponen lingkungan sosial,
seperti manusia dan budayanya.
b)
Unsur Instrumental
Unsur
instrumental mencakup hal-hal seperti ruang kelas dan ruang fisik lainnya, alat
bantu pengajaran seperti buku dan komputer, video instruksional dan bentuk
media lainnya, guru dan ahli lainnya, materi kursus dan rencana pelajaran, dan
pendekatan instruksional seperti menerapkan kelompok pembelajaran kooperatif.
Berdasarkan
pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa beberapa unsur yang mempengaruhi hasil
belajrar siswa berasal dari faktor internal dan eksternal. Unsur internal dari dalam diri siswa berupa
kesiapan siswa dalam menerima materi pembelajaran. Sedangkan unsur eksternalnya
dilihat dari instrument yang digunakan guru dalam proses pembelajaran seperti
strategi pembelajaran, model pembelajaran dan media pembelajaran yang digunakan
untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Hal tersebut
secara signifikan mempengaruhi upaya siswa untuk mencapai hasil belajar yang
tinggi dan dapat membantu dalam pelaksanaan kegiatan instruksional untuk
memastikan bahwa tujuan pembelajaran terpenuhi. Selain
itu, lingkungan belajar yang nyaman juga menjadi unsur pendukung dalam
keberhasilan proses pembelajaran.
c.
Pengertian Mata Pelajaran IPS
Sejak tahun 1970-an, IPS telah banyak dibahas dalam
civitas akademika Indonesia, dan pada tahun 1975, secara resmi dimasukkan ke
dalam kerangka kurikuler negara. Menurut Sapriya (2009:45), “ilmu sosial” (atau
“pengantar ilmu sosial interdisipliner” atau “IPS”) adalah nama mata pelajaran yang diajarkan pada tingkat dasar
dan tingkat menengah , serta nama program studi di tingkat sekolah dasar (SD/MI) dan menengah
(SMP/MTs/SMA/SMK/MAK). Pada tingkatan universitas lebih dikenal
dengan nama ilmu
sosial. Namun, pengetahuan ilmu pengetahuan sosial pada tingkatan dasar mata pelajaran ini berdiri sendiri dan merupakan gabungan dari beberapa mata pelajaran yang berbeda.
Kurikulum Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan kurikulum wajib yang telah dituangkan secara
sistematis dan komprehensif dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006. Pendidikan
berbasis teori IPS bertujuan untuk memberikan wawasan dan dimensi lebar dan komprehensif kepada peserta didik tentang bidang
studi terkait. Metode pengajaran yang digunakan dalam bidang ilmu sosial di
Republik Indonesia telah banyak dipengaruhi oleh praktik pendidikan Barat. Di berbagai
belahan dunia lain khususnya di Amerika, sebutan studi sosial digunakan untuk merujuk pada materi pelajaran mengajar siswa
tentang ilmu sosial. Telah dicatat bahwa banyak teori dan gagasan IPS yang
memberikan pengaruh besar terhadap pelaksanaan pembelajaran IPS yang menjadi
struktur pembangun kurikulum di Indonesia (Sapriya 2009:34). Di Amerika Serikat, ada
kelompok yang sering dikenal dengan akronimnya adalah NCSS. Menurut NCSS, tujuan pengajaran IPS adalah
sebagai
salah satu sarana dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat
menumbuhkan unsur pengetahuan, unsur keterampilan dan unsur sikap mereka dalam konteks konteks sosial dan manusia yang
beragam. Secara keseluruhan, bidang Ilmu Sosial dan Manusia mencakup berbagai
subbidang akademik, termasuk Sejarah, Politik, Matematika, Agama, Hukum,
Antropologi, Geografi, Sosiologi, Ekonomi, dan bidang terkait lainnya.
Akan tetapi,
menurut (Depdiknas, 2007:3), ilmu sosial adalah keterpaduan beberapa bidang
studi, antara lain hukum, sosiologi, geografi, sejarah, ekonomi, politik, dan
praktik budaya. Untuk mewujudkan pendekatan lintas disiplin terhadap studi
masyarakat dari perspektif ilmu sosial, perlu dipertimbangkan bagaimana
membumikan bidang ilmu sosial dalam realitas empiris dan fenomena sosial.
Pembelajaran Sosiologi sebagai mata pelajaran adalah disiplin akademis dengan
tujuan menyeluruh membentuk warga global yang bertanggung jawab, demokratis,
dan berwawasan global (Sapriya:2009:62). Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
(IPS) dan pembelajaran di sisi lain bertujuan untuk menciptakan manusia yang memiliki
kemampuan untuk bersaing di masyarakat yang terdiri dari beberapa bagian di
tingkat domestik, dalam negeri, bahkan laur negeri. Untuk mengatasi hal
tersebut, inti pembelajaran IPS dikatakan sebagai pengembangan potensi
siswa supaya memiliki kepekaan terhadap
fakta-fakta sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat berwawasan luas dan mempunyai sifat membangun pada
upaya-upaya pembaharuan
terhadap kondisi
sosial. penyakit, dan diberikan rangsangan atau contoh untuk membantu mereka
melakukannya.
Berdasarkan
pendapat yang dikemukakan tersebut dapat diambil sikap bahwa IPS adalah mata
pelajaran yang merupakan gabungan dari bermacam-macam bidang keilmuan yang mempunyai maksud dan tujuan mencetak pribadi-pribadi yang
konsekwen,
demokratis, dan mempunyai perilaku mencintai kejadian yang bersifat sosial,
mempunyai memiliki sikap cinta terhadap fenomena sosial,
dan memiliki kecakapan psikologi yang baik serta memiliki kemampuan untuk mengatasi
permasalahan yang muncul baik dari dalam diri sendiri maupun yang bersifat
kelompok, mempunyai kemampuan untuk bersaing dalam lingkungan masyarakat dari
berbagai tingkatan baik tingkatan lokal, regional, nasional maupun secara
global dalam lingkup dunia.
d.
Tujuan Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial
Sebagai
salah satu mata pelajaran wajib, maka IPS mempunyai tujuan yaitu membangun
masyarakat madani yang patuh. Penjelasan mengenai tujuan utama pembelajaran IPS
tersebut disampaikan Hasan (1996, 114-117) yaitu :
1)
Pengembangan nilai-nilai dan norma-norma kemasyarakatan yang merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari pribadi siswa secara individu. Pola pikir, norma, dan etika yang dapat
ditumbuhkan adalah
a)
Pandangan dan apresiasi terhadap nilai-nilai dan moral yang berada di masyarakat diantaranya
pribadi yang kritis, kejujuran, rasa menghargai pada pemikiran orang selain
diri kita, paham keagamaan, tingkat kepedulian terhadap keadaan sekitar,
menghargai orang-orang yang lebih tua, serta banyak lainnya.
b)
Sikap tenggang rasa
c)
Kebersamaan dan sikap saling menolong
d)
Hak-hak dasar kemanusian
2)
Peningkatan bidang konatif adalah kapasitas dari
seseorang yang menjadi petunjuk tentang bagaimana orang tersebut bukan saja
mempunyai pemahaman dan pengertian, perilaku, norma dan yaitu kapasitas yang memberikan petunjuk tentang
seseorang yang bukan saja mempunyai tingkat kepandaian dan tingkat penafsiran,
mempunyai kapabilitas yang tinggai dalam bidang kognitif, sikap, atura dan
perwatakan serta memiliki yang menunjukan bahwa
seseorang tidak hanya memiliki pengetahuan dan pemahaman, kemampuan kognitif
tinggi, sikap, norma, dan
watak, dan juga
mempunyai kemauan agar dapat melakukan dan memberikan pembuktian pada kehidupan
nyata di kesehariannya. Penjelasan mengenai tujuan konatif adalah :
a)
Melakukan kegiatan-kegiatan sosial
b)
Giat dalam berkerja
c)
Mempunyai kejujuran dalam bekerja
d)
Memiliki kapasitas yang baik dalam beradaptasi
3)
Memiliki pemahaman tentang nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh
masyarakat, seperti kejujuran, kebaikan, empati, rasa hormat, dan tidak
mementingkan diri sendiri; Kebanggaan nasional; dan perlunya bekerja sama untuk
kebaikan bersama.
4)
Mempunyai kapasitan dalam melakukan komunikasi, berkolaborasi, dan bersaing
di
tengah-tengah lingkungan tempat tinggal yang beragam di tingkat domestik, dalam negeri, dan internasional
Penjelasan
mengenai tujuan dari pembelajaran IPS yang dikemukana oleh Sapriya (2009:201) adalah :
1)
Mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang keterkaitan beberapa pola pikir dan mempunyai kaitan dengan lingkungan masyarakat.
2)
Mempunyai kecakapan dasar dalam berpikir secara logis dan responsif, sifat
ingin tahu yang tinggi, keinginan bertanya, mencari solusi suatu permasalahan
dan mahir bersosialisasi.
3)
Mempunyai
rasa komitmen yang kuat terhadap, dan pengetahuan tentang, nilai-nilai
kemanusiaan dan sosial.
4)
Mempunyai kapasitas yang baik dalam
berkomunikasi, berkolaborasi, dan bersaing dalam masyarakat yang
kompleks di tingkat lokal, nasional, dan global.
Berdasarkan
perspektif tersebut di atas tentang tujuan pendidikan IPS, kita dapat menarik
kesimpulan bahwa pendidikan IPS diharapkan akan membantu siswa mengembangkan
cara berpikir yang lebih kritis dan analitis tentang masalah sosial yang
mempengaruhi komunitas mereka dan membantu mereka menjadi warga negara yang
lebih baik. negara mereka. Kemudian, menjadi bijaksana dan peduli terhadap komunitas
dan lingkungan seseorang melalui pemahaman tentang pentingnya sejarah dan
budayanya.
e.
Ruang dan Lingkup
IPS Sekolah Dasar
Pembagian
ruang dan lingkup pembelajaran IPS di sekolah dasar menurut Tasrif (2008:4) adalah :
1. Ditilik dari sudut pandang
hubungan yang melingkupi hubungan sosek, ilmu jiwa, kearifan lokal, histori, lingkungan tempat tinggal dan sudut pandang secara politik.
2. Ditilik dari sudut pandang
kelompok bisa berupa keluarga, RT, RW, Dusun, antar warga dalam desa, serta
bentuk-bentuk organisasi kemasyarakatan dan berbangsa.
3. Ditilik dari stratanya
mencakup tingkatan lokal, tingkatan regional, serta dunia secara global.
4. Ditilik dari sudut pandang
hubungan atau korelasi bisa berbentuk kebudayaan, bidang sosial, bidang politik
maupun dalam bidang ekonomi.
Pada tataran
dasar, mata pelajaran IPS dirancang untuk memberikan siswa pendidikan
menyeluruh yang memperhitungkan semua aspek kehidupan dan kebutuhan manusia.
Untuk melestarikan umat manusia, IPS memperhatikan bagaimana orang memenuhi
kebutuhannya, termasuk kebutuhan untuk memperoleh makanan, tempat tinggal,
pakaian, dan hiburan; untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia di Bumi;
untuk mengatur keamanan dan pemerintahan mereka sendiri; dan untuk memenuhi
kebutuhan lain yang mungkin mereka miliki.
Dalam artian
singkat mata pelajaran IPS difokuskan pada pembelajaran yang secara umum untuk menyelidiki, menganalisis, dan
mengevaluasi sistem sosial dan ekonomi manusia dalam konteks komunitas global.
Mengingat luasnya konteks sosial manusia, maka pendidikan IPS harus dibatasi
pada setiap jenjang pendidikan sesuai dengan kemampuan siswa yang terdaftar
pada jenjang tersebut, sehingga ruang yang dialokasikan untuk pengajaran IPS
bervariasi dari jenjang SD dan SMP. Di tingkat sekolah dasar, pengajaran IPS
terbatas pada topik-topik yang sempit seperti yang tercakup dalam buku teks
geografi dan sejarah. Lebih khusus lagi, kejahatan sehari-hari dan masalah
sosial yang dihadapi oleh siswa sekolah dasar di lingkungan terdekat mereka.
Ruang penelitian
diperluas pada tingkat pendidikan menengah. Tren serupa dapat dilihat di
tingkat pendidikan atas, di mana berbagai tindakan diambil untuk memerangi
penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan materi pelajaran dan penyelidikan akademis.
Karena IPS di pendidikan tinggi adalah alat untuk melatih kemampuan berpikir
dan berbicara siswa secara sistematis, pendekatan pengajaran interdisipliner
dan multidisiplin adalah pilihan yang baik.
Dari penjelasan
di atas, dapat disimpulkan bahwa materi pelajaran IPS adalah manusia dalam
konteks sosialnya, maka ruang lingkup penelitian IPS meliputi (a) substansi
disiplin ilmu sosial yang secara inheren peduli dengan masyarakat, dan (b)
fenomena sosial. yang berdampak pada kehidupan sehari-hari. Pendekatan ganda
terhadap pendidikan IPS ini diperlukan karena pendidikan IPS dirancang untuk
memenuhi kebutuhan pembelajar individu maupun komunitas yang lebih besar. Oleh
karena itu, pendidikan IPS harus memasukkan materi yang berakar pada masyarakat (Yani, 2012:23).
f.
Karakteristik Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Dari
pendapat Djahari (1989:4) dapat diuraikan secara rinci tentang karakteristik
IPS di sekolah dasar yaitu :
1)
Pembelajaran IPS berupaya untuk mentautkan antara
konsep dan realita maupun kenyataan sebaliknya (mengkaji bukti dari sudut
pandang keilmuan)
2)
Upaya menganalisis dan membahas mata pelajaran IPS
tidak terpaku pada satu bidang ilmu saja, tapi harus berpandangan secara luas
dengan mempertimbangkan bidang ilmu-ilmu yang lain sehingga mendapatkan
kesimpulan bahwa IPS adalah suatu konsep ilmu yang tersusun secara runtut dan
diperuntukan agar dapat menganalisis suatu permasalahan.
3)
Berfokus pada keterlibatan siswa secara aktif melalui
proses pembelajaran ikuiri yang dapat meningkatkan kemampuan kritis siswa dalam
berpikir secara rasional dan analitik. Rancangan pembelajaran dirangkai melalui
berbagai bahan yang didapat dari ragam disiplin keilmuan, kenyataan hidup di
lingkungan, dan difokuskan pada proyeksi tentang kehidupan di masa mendatang
yang lebih baik.
4)
Pembelajaran IPS bersifat dinamis yang berpegang pada
landasan kehidupan sosial yang ada di masyarakat, sehingga fokus pembelajaran
ada pada kegiatan internal dan aktif yang ada pada diri siswa dengan tujuan
mewujudkan agar siswa mempunyai kebiasaan dan keahlian untuk mencerna hal-hal
nyata yang terjadi di masyarakat.
5)
Pembelajaran IPS lebih berfokus pada keadaan dan
pendalaman terhadap hubungan dalam
masyarakat yang lebih menonjolkan sifat manusiawi.
6)
Mata pelajaran IPS bukan saja mengkhususkan pada aspek
pengetahuan siswa secara detail tetapi juga terhadap nilai-nilai dan
keterampilan yang dimiliki siswa.
7)
Mata pelajaran IPS bertujuan untuk memberikan
pengetahuan yang maksimal kepada siswa terutama terhadap masalah-masalah yang
terjadi di dekat kehidupan siswa itu sendiri.
Prinsip,
karakteristik, dan pendekatan yang menjadi inti pembelajaran IPS harus
dilaksanakan secara konsisten ketika program pendidikan IPS dikembangkan sesuai
dengan ciri khas yang melekat pada pembelajaran IPS tersebut.
g.
Indikator Hasil Belajar
Prestasi akademik atau lebih dikenal dengan hasil belajar
siswa adalah kumpulan keterampilan yang mereka bawa ke kelas setelah diuji melalui
kegiatan pembelajaran, seperti yang didefinisikan oleh Sudjana (2016:22). Taksonomi Bloom (dikutip dalam
Sudjana 2016:22–23) digunakan untuk mengklasifikasikan prestasi akademik siswa
dalam sistem pendidikan nasional. Taksonomi ini secara garis besar membagi
kemampuan siswa menjadi tiga kategori: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam konteks pendidikan,
beban kognitif mengacu pada jumlah pengetahuan siswa, pemahaman, aplikasi,
analisis, sintesis, dan evaluasi di berbagai topik. Dua dari dimensi awal dianggap
sebagai pemrosesan kognitif tingkat rendah, sedangkan empat lainnya
dikategorikan sebagai pemrosesan tingkat tinggi.
Ada lima komponen cara berpikir yang matang secara
emosional: kapasitas untuk menerima dan memproses informasi, kemampuan untuk
mengevaluasi dan memprioritaskan tugas, kapasitas untuk mengatur dan memproses
emosi diri sendiri secara introspektif, dan kapasitas untuk secara tepat
menanggapi kebutuhan orang lain. yang lain. Pemeringkatan kemampuan
psikomotorik dalam kaitannya dengan kinerja akademik dalam hal perolehan
keterampilan dan pengembangan potensi seseorang untuk bertindak. Ada 6 komponen
yang membentuk kompetensi psikomotor: (a) gerak reflektif, (b) kemampuan gerak
dasar, (c) keterampilan persepsi, (d) harmoni atau presisi, (e) kompetensi
gerak kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan interpretatif.
Pengkategorian hasil belajar menurutt Gagne (dalam Sudjana,
2016:22) digolongkan menjadi 5 kategori
dengan penjelasan sebnagai berikut :
1)
Kemampuan untuk menyampaikan informasi secara verbal dikenal sebagai
"informasi verbal," dan itu mencakup bentuk komunikasi lisan dan
tertulis. kemampuan khusus untuk bereaksi terhadap rangsangan yang sempit.
Kemampuan ini tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah, atau
perubahan aturan.
2)
Kemampuan intelektual adalah kemampuan untuk menyampaikan ide dan konsep
secara jelas. Kemampuan intelektual meliputi kemampuan kategorisasi, kemampuan
analisis dan sintesis, serta kemampuan mengembangkan prinsip-prinsip ilmiah.
Akal adalah kemampuan untuk terlibat dalam tugas-tugas kognitif khusus.
Pengetahuan diskriminasi, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan hukum semuanya
berkontribusi pada persenjataan intelektual seseorang.
a)
Berlatih diskriminasi, yaitu disparitas pada bermacam bentuk dengan
perspektif yang berbeda. Seperti membandingkan dan membedakan berbagai bentuk
wajah, periode waktu, ukuran pohon, dan ukuran tumbuh-tumbuhan.
b)
Berlatih kerangka konseptual. Sebuah konsep adalah simbol mental. Ini
adalah hasil dari membuat interpretasi fakta.
c)
Berlatih peraturan. Hukum, pengetahuan, atau legenda urban? (aturan).
Arti dari setiap dalil dan rumus yang Anda pelajari harus dipahami agar dapat
memperoleh manfaat sepenuhnya.
3)
Sebuah desain kognitif
adalah kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan proses mental
sendiri.Keterampilan ini mencakup penggunaan konsep dan teknik untuk memecahkan
masalah
4)
Keahlian pada bidang motorik adalah kemampuan untuk mengurutkan
akselerasi dan deselerasi jasmani dalam masalah koordinasi, sehingga
menghasilkan fenomena yang dikenal sebagai jasmani-otomatism.
5)
Kemampuan untuk menerima atau menolak suatu objek menjadi dasar penilaian
seseorang terhadap objek tersebut. Keterampilan mencakup kemampuan untuk
mengevaluasi makna secara internal dan eksternal. Kebijaksanaan adalah
kemampuan untuk menetapkan nilai-nilai sebagai pedoman tindakan.
Mempertimbangkan hal di atas, kita dapat mengatakan bahwa
pengetahuan linguistik, kecakapan intelektual, strategi kognitif, keterampilan
fisik, dan disposisi adalah indikator keberhasilan belajar yang paling dapat
diandalkan dalam penelitian ini.
2.
Hakikat Model Pembelajaran
a.
Definisi Model Pembelajaran
Sebagai penggerak penting dalam roda pendidikan, guru
harus percaya bahwa mereka hanya perlu memiliki kemampuan untuk membuat sedikit
penyesuaian pada model pengajaran untuk meningkatkan lingkungan belajar bagi
siswa mereka dan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Sekarang, pendidik tidak harus terpaku pada satu metode
pengajaran; sebaliknya, mereka mungkin bereksperimen dengan beberapa pendekatan
untuk menciptakan lingkungan kelas yang tidak membosankan atau mengecilkan hati
siswa mereka. Di dunia yang berteknologi maju saat ini, hal ini berdampak pada pengembangan metode pengajaran
baru yang bertujuan untuk membuat pengalaman pendidikan lebih menarik bagi
siswa dengan menggunakan berbagai teknik dan pendekatan yang berbeda. Tujuan
dari model instruksional ini jelas: untuk memastikan bahwa siswa belajar apa
yang mereka butuhkan dengan segala cara yang mungkin. Untuk tujuan itu, para
pendidik semakin bereksperimen dengan metode pengajaran yang berbeda dengan
harapan menciptakan lingkungan kelas yang lebih menarik bagi siswa muda dan,
pada gilirannya, menginspirasi keinginan mereka untuk belajar. Hasil belajar
yang diinginkan adalah hasil yang diinginkan,
Bukan
saja pada bidang pengetahuan tetapi juga aspek keterampilan motorik dan pola
sikap dan tingkah laku yang diharapkan dapat tidak hanya dalam tataran kognitif saja,
melainkan psikomotorik dan afektifnya turut membangun dan bertambah maju yang berujung pada
peningkatan kemampuan siswa. Pendidik harus mempertimbangkan dengan cermat materi
pelajaran yang ingin mereka bahas sebelum memulai kegiatan pengajaran dan
memilih metode metode pengajaran yang cocok untuk itu.
Mengingat
kesulitan guru dalam melaksanakan tanggung jawab pedagogis mereka dan kesulitan
yang dihadapi siswa dalam belajar, model pendidikan dapat dilihat sebagai upaya
untuk memecahkan masalah ini. Menurut Hanafiah dan Suhana (2012:41), model
pedagogis adalah salah satu cara terbaik untuk membantu siswa beradaptasi dan
mengambil manfaat dari pengetahuan generasi baru. Model pembelajaran memiliki
ikatan yang kuat dengan gaya belajar dan mengajar siswa dan guru masing-masing,
yang disingkat menjadi SOLAT (Style of Learning and Teaching).
Menurut Rusman
(2011:41), Model pembelajaran adalah layout atau gambaran imajiner yang
memformalkan kegiatan yang teratur untuk memberikan
pengalaman dalam belajar dalam melayani pencapaian
tujuan tertentu dan bermanfaat sebagai alat pemandu bagi administrator pendidikan
dan guru dalam merencanakan strategi instruksional. Sagala (2009:175)
menguraikan definisi model, menjelaskan bahwa itu adalah desain sederhana dari
sistem kerja, deskripsi sistem yang berpotensi layak atau tidak masuk akal, dan
demonstrasi langsung dalam bentuk instruksi adalah contoh dari jenis
penyederhanaan ini.
Menurut Dimyati
dan Mudjiono (2008:247), Instruksi, atau
"mengajar," adalah tindakan yang direncanakan guru dimaksudkan untuk
memimpin siswa mereka untuk secara aktif terlibat dengan materi pembelajaran.
Untuk mendukung proses pembelajaran bagi siswa, harus ada interaksi antara
pembelajar dan sumber belajar yang memiliki kesamaan unsur tujuan, isi,
metodologi, dan penilaian.
Seperti yang
telah dijelaskan, model pendidikan dimaksud dimaksudkan untuk membantu guru
mengatasi hambatan yang mereka hadapi dalam mendidik siswanya, khususnya dengan
memungkinkan mereka untuk lebih mudah beradaptasi dengan keadaan siswanya untuk
membawa perubahan yang diinginkan pada siswanya. ' sedang belajar. Sebagai
kerangka atau desain konseptual (diinformasikan oleh pembelajaran dan teori
pendidikan), dimaksudkan untuk membantu siswa menjadi pembelajar yang lebih
aktif dengan menekankan pentingnya akses ke materi pembelajaran dalam penataan
pengalaman pendidikan mereka sehingga mereka lebih mungkin untuk mencapai hasil
belajar tertentu. .
Buchori (2008:101)
mengidentifikasi empat konsep berikut sebagai contoh model pendidikan yang
berbeda. Model yang
berbeda mengajarkan perkembangan melalui kondisi yang berbeda termasuk komponen
yang berbeda seperti fokus, sikap, jaringan sosial, dan struktur pendukung.
Lebih
lanjut Sagala (2009) memberikan pendapatnya tentang ciri dari model-model
pembelajaran yaitu :
1)
Memiliki prosedur metodis. Model pedagogis lebih dari sekadar kumpulan
fakta yang tidak terhubung; itu adalah prosedur metodis untuk mengubah perilaku
siswa berdasarkan premis-premis yang diandaikan.
2)
Tujuan individual untuk hasil belajar. Setiap model mengajar dengan
menguraikan hasil belajar spesifik yang diharapkan dari siswa, ditunjukkan
dalam sampel pekerjaan yang dapat diukur. Apa yang diharapkan siswa tunjukkan
setelah jadwal kursus dipetakan dengan cermat dan khusus.
3)
Konsentrat pemeliharaan lingkungan. Menyiapkan lingkungan belajar yang
sangat disesuaikan.
4)
Tingkat keberhasilan, model harus memberikan kriteria tingkat pekerjaan
yang diharapkan siswa. Guru harus senantiasa mengilustrasikan dan menjelaskan
hasil belajar siswa dalam bentuk tindakan yang harus mereka tunjukkan setelah
menyelesaikan rencana pembelajaran.
5)
Interaksi dengan lingkungan, paradigma pengajaran yang menetapkan
pedoman interaksi dan reaksi antara siswa dengan alam sekitarnya.
Model
pendidikan memiliki arti yang lebih luas daripada strategi, metode, atau
prosedur, menurut Trianto (2009:23). Model pembelajaran yang sukses akan
memiliki empat karakteristik unik yang tidak dapat ditandingi oleh satu
strategi, metodologi, atau prosedur. Elemen kuncinya adalah:
1)
Skema keacakan dan logis yang sudah
diuraikan secara jelas oleh pembuat atau developernya
2)
Landasan konsep mengenai sesuatu dan dengan cara apa siswa belajar (target dari proses belajar yang hendak dipenuhi)
3)
Metode instruksional yang telah dibuang untuk kepentingan keberhasilan
implementasi pola yang telah ditentukan
4)
Kondisi domain belajar yang dibutuhkan untuk pencapaian target dari
pembelajaran agar dapat tercapai
Penjelasan
di atas merujuk terhadap ditariknya sebuah simpulan mengenai pengertian model
pembelajaran adalah rancangan kegiatan yang bersifat dinamis yang digunakan
untuk meningkatkan lingkungan belajar, karena pengajaran paling efektif ketika
melibatkan kolaborasi erat antara guru dan siswa dari waktu ke waktu. Setiap
model lingkungan belajar harus mendasarkan kegiatannya pada tahap tertentu dari
kurikulum komprehensif yang meningkatkan lingkungan belajar. Bergantung pada
tujuan pembelajaran, strategi ini bisa sangat membantu guru untuk membawa siswa
mereka ke tempat yang mereka inginkan. Siswa harus diarahkan pada tujuan
pembelajaran dengan menggunakan model pedagogis yang telah ditentukan,
diharapkan.
Dengan
demikian, pemilihan model harus dilakukan sesuai dengan tujuan pembelajaran,
karakteristik siswa, dan teori pedagogis sebelum benar-benar menerapkannya.
Oleh karena itu, dalam hal penyampaian konten, model pedagogis adalah alat atau
pendekatan yang digunakan oleh guru untuk membimbing pelajaran mereka menuju
tujuan pembelajaran tertentu, seperti menanamkan pengetahuan materi pelajaran
kepada siswa mereka.
b. Keistimewaan Model Pembelajaran
Kekhasan
dari suatu model pembelajaran adalah pembeda yang menjadi ciri khusus yang
membedakan dengan model atau teknik pembelajaran lainnya. Widdiharto (2004:3)
menjelaskan tentang 4 kekhasan dari model pembelajaran, yaitu :
1)
Memiliki sifat yang logis dari sudut pandang toeri yang dibuat oleh
penyusunnya
2)
Mempunyai misi khusus tentang pencapaian tujuan dari model pembelajaran
tersebut
3)
Perlunya tindak mengajar agar pada pelaksanaannya model pembelajaran
tersebut dapat berhasil
4)
Adanya lingkungan belajar yang mendukung pencapaian tujuan dari
pembelajaran yang dilakukan
Selanjutnya
menurut pendapat dari Tobing yang dikutip oleh Indrawati dan Setiawan (2009:27)
mendeskripsikan 5 sifat khusus dari model pembelajaran yang dinyatakan baik,
yaitu :
1)
Memiliki Proses ilmiah
Setiap model pembelajaran wajib mempunyai proses ilmiah
yang terstruktur dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar dapat menjadi acuan bagi
perubahan perilaku siswa dalam belajar. Sintaks atau urutan tindakan adalah strategi dari model
pembelajaran tersebut yang dijadikan pedoman baik oleh guru atau siswa dalam
pelaksanannya.
2)
Detail hasil belajar yang telah disusunnya
Pada sebuah model pembelajaran
wajib mencantumkan kriteria dari hasil belajar yang dihasilkan secara jelas
yang berhubungan dengan kemampuan siswa.
3)
Detail dan Kondisi lingkungan tempat belajar
Pada satu jenis model
pembelajaran sudah menjelaskan secara gamblang tentang keadaan lingkungan siswa
dalam belajar
4)
Standar Kinerja
Sebuah model pembelajaran
ditentukan oleh tingkat kinerja siswa yang diharapkan. Asumsi tentang kemampuan
siswa dimasukkan ke dalam model pembelajaran, dan kinerja siswa yang sebenarnya
ditunjukkan setelah serangkaian langkah pengajaran yang telah ditentukan.
5)
Teknis Pelaksanaan
Pada keseluruhan model pembelajaran semuanya menunjuk
pada mekanisme dasar yang mengungkapkan tanggapan dan interaksi siswa dengan
lingkungan mereka.
Seorang guru yang
efektif harus mampu mengkonseptualisasikan bagaimana instruksi akan
disampaikan. Model pedagogis adalah rencana bagaimana instruksi akan dilakukan
di kelas. Melihat karakteristik dan kriteria unik model tersebut di atas,
jelaslah bahwa guru harus memilih metode pengajaran sebelum memulai pelajaran.
Kerangka desain instruksional yang dipikirkan dengan matang memungkinkan guru
untuk menyesuaikan pelajaran mereka dengan siswa berdasarkan kebutuhan individu
mereka dan konteks di mana mereka disampaikan. Akibatnya, proses pendidikan
akan berjalan lancar dan tepat sesuai dengan lingkungan belajar.
c.
Jenis Model Pembelajaran
Keberhasilan dari penerapan
model pembelajaran oleh seorang guru dapat dipengaruhi apakah mereka menggunakan model
pengajaran yang efektif atau tidak. Hal ini memungkinkan guru untuk memilih
metode pengajaran terbaik untuk memastikan siswa mereka belajar apa yang mereka
butuhkan. Ada banyak jenis model pembelajaran yang dapat digunakan di kelas,
seperti yang dijelaskan oleh Komalasari (2010:58-88) diantaranya.
1)
Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah)
Barrow (dalam
Barret, 2005: 14) mendefinisikan pembelajaran berbasis isu sebagai “pembelajaran
yang terjadi dari tindakan bekerja menuju pengetahuan tentang pemecahan
masalah”. Pembelajaran berbasis masalah, atau PBL, adalah jenis pembelajaran yang
muncul dari proses bekerja menuju pemahaman tentang bagaimana memecahkan
masalah. Pertama kali siswa menghadapi masalah dalam proses pembelajaran
seringkali merupakan hal yang paling berkesan. Sedangkan Daniel Tillman
(2013:3) berpandangan bahwa: Problem Based Learning adalah proses Inkuiri yang
menjawab pertanyaan, memuaskan rasa ingin tahu, dan menghilangkan keraguan dan
ketidakpastian tentang peristiwa kehidupan yang paling rumit. Pada dasarnya,
sebuah isu adalah segala bentuk pertanyaan, tantangan, atau ambiguitas yang
meminta, atau membutuhkan, jawaban. Pembelajaran berbasis masalah dapat
dianggap sebagai prosedur investigasi untuk menjawab pertanyaan dan
menjernihkan ketidakpastian dan keraguan tentang fenomena kompleks dalam
kehidupan nyata. Masalah adalah ancaman, kesulitan, atau kurangnya kepercayaan
diri yang mengalihkan perhatian dari atau memerlukan banyak jenis penyelesaian
atau perbaikan.
2)
Cooperative
Learning
Model
pembelajaran ini menggunakan pendekatan instruksional yang
mengutamakan bentuk kegiatan siswa untuk bisa bekerja secara berkelompok agar bisa
memenuhi sasaran yang telah ditentukan bersama. Siswa dalam pembelajaran kooperatif terlibat dalam studi
dan pekerjaan proyek dalam kelompok kecil dengan siswa lain; kelompok-kelompok
ini berkisar dari empat hingga enam orang dan memiliki komposisi yang
bervariasi berdasarkan materi pelajaran dan faktor lainnya.
Menurut Sugiyanto
(2009:40), pembelajaran kooperatif adalah proses yang dilakukan dengan secara sadar dan sengaja mengelaborasikan hubungan yang cerdas secara emosional (memuncukan
sifat kebersamaan dan saling menghargai) untuk menghindari kebingungan dan terjadinya
perselisihan pendapat yang mungkin mengarah pada konflik. Hasil belajar yang diperoleh
melalui pembelajaran kooperatif tidak terbatas pada nilai akademik; melainkan,
mereka juga mencakup nilai-nilai moral dan spiritual seperti perasaan tanggung
jawab pribadi, saling menghormati, kasih sayang, dan penghargaan atas kehadiran
satu sama lain dalam hidup kita.
Pembelajaran
kooperatif dan kerja kelompok berjalan beriringan, setidaknya dalam teori.
Banyak guru yang bersikeras bahwa pendidikan kooperatif tanpa cacat karena
mereka secara rutin menggunakannya dalam bentuk belajar kelompok, meskipun
tidak setiap belajar kelompok disebut sebagai pembelajaran kooperatif. Istilah
"pembelajaran kooperatif" digunakan oleh Lie (2018:12) untuk
menggambarkan metode pengajaran di mana siswa bekerja sama dalam tugas
terstruktur.
3)
Project Based Learning
Menurut Goodman
dan Stivers (2010), model PJBL adalah kerangka program pengajaran yang disusun di atas aktivitas
pembelajaran dan tanggung jawab dunia nyata yang memberi siswa tantangan yang biasa
terjadi pada lingkungan sehari-hari mereka dan dimaksudkan untuk ditangani dalam kelompok
kecil. Menurut Afriana (2015), metode PJBL adalah metode pengajaran yang berpusat pada siswa yang
memberikan siswa pengalaman kelas yang bermakna.
Tindak
tanduk belajar
siswa dalam domain akademik dan konseptual dibangun di sekitar hasil
pembelajaran berbasis proyek. Menurut Grant (2002), PJBL adalah metode
pengajaran yang mendorong siswa untuk melakukan penelitian mendalam tentang
topik tertentu. Peserta didik terlibat dalam peer review konstruktif dengan
mengambil pendekatan data-informasi untuk masalah dan pertanyaan yang konkret,
otentik, dan kontekstual di alam. Wena (dalam Lestari, 2015: 14) berpendapat
bahwa paradigma pembelajaran berbasis proyek (PJBL) memberikan kesempatan
kepada guru untuk mengelola pengajaran di kelas dengan memasukkan pekerjaan
proyek siswa. Bekerja pada sebuah proyek adalah jenis pekerjaan unik yang
memberi siswa tanggung jawab kompleks berdasarkan pertanyaan dan masalah yang
menarik, sementara juga mendorong mereka untuk berpikir kritis, memecahkan
masalah, membuat keputusan, melakukan penelitian, dan bekerja secara mandiri.
Pendekatan PJBL membuat suasana belajar menjadi lebih konstruktivis di mana siswa menyusun wawasan mereka sendiri dan guru bertindak
sebagai fasilitator. Dalam sebuah studi 2010 (Goodman & Stivers),
d.
Pembelajaran Berbasis Proyek
1)
Definisi Pembelajaran
Berbasis Proyek
Pendekatan Model
Pembelajaran Berbasis Proyek atau Project Based Learning (PjBL) untuk pendidikan memberi guru
kebebasan untuk memasukkan pekerjaan proyek siswa ke dalam pengajaran di kelas.
Pembelajaran berbasis proyek telah terbukti meningkatkan tingkat kreativitas
dan motivasi siswa. Pekerjaan proyek dapat dianggap sebagai semacam
pembelajaran berbasis aktivitas kontekstual terbuka, dan merupakan komponen
dari proses pembelajaran yang memberikan fokus terkonsentrasi pada pemecahan masalah
dalam bentuk upaya kolaboratif yang dilakukan selama proses pembelajaran selama
yang telah ditentukan. kerangka waktu (Istarani, 2012:45).
Paradigma
pedagogik pembelajaran berbasis proyek melibatkan siswa dalam memecahkan
masalah dan memberi mereka kesempatan untuk bekerja secara mandiri dan
kelompok. Siswa terlibat dalam memecahkan masalah dan mengerjakan tugas dengan
makna selain maknanya sendiri, mereka memiliki kesempatan untuk bekerja secara
mandiri untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, dan mampu memenuhi
keinginannya sendiri untuk menciptakan produk nyata sebagai hasil dari
pendidikannya (Wena, 2006:145). Siswa diharapkan dapat menganalisis masalah,
menemukan solusi, mengambil keputusan, melakukan penelitian, dan bekerja secara
mandiri sebagai bagian dari model pembelajaran berbasis proyek. Pembelajaran
berbasis proyek adalah metodologi yang menekankan ide-ide kunci dan konsep
suatu disiplin, melibatkan siswa dalam memecahkan masalah dunia nyata dan tugas
yang bermakna, mendorong pembelajaran mandiri dan penciptaan karya asli, dan
penghargaan siswa atas usaha mereka.
Istilah
"pembelajaran berbasis proyek" mengacu pada metode pengajaran yang
bertujuan untuk menghubungkan instruksi kelas dengan kehidupan sehari-hari
siswa melalui penyelesaian proyek berbasis sekolah yang otentik. Pembelajaran
berbasis proyek merupakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa secara
aktif dalam penelitian. Siswa melakukan penelitian mereka sendiri atau dalam
kelompok kecil sehingga mereka dapat memperoleh dan mengasah keterampilan yang
akan membantu mereka mencapai tujuan pembelajaran yang ditentukan. Melalui
pembelaaran berbasis proyek, guru dapat memfasilitasi siswa dalam menciptakan lingkungan belajar yang
mendorong siswa untuk berpikir kritis dan berfikir kreatif tentang berbagai masalah. Model
pembelajaran ini juga dapat melejitkan potensi siswa dan memberikan motivasi untuk terlibat langsung dalam pembelajaran.
Pembelajaran
berbasis proyek akan memberikan pengalaman belajar yang baru dalam proses
pembelajaran, sehingga siswa akan mengkontruksi pengetahuan melalui apa yang
dialaminya selama proses pembelajaran berlangsung. Siswa dapat mengatur
waktu mereka sendiri untuk menyelesaikan proyek mereka dan mengenali masalah
mereka sendiri sebagai tantangan atau pertanyaan yang membutuhkan jawaban
(Warsono, 2012:153)
2)
Prosedur Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek
Implementasi
dari satu model pembelajaran berbeda
dengan model pembelajaran lainnya. Implementasi harus berdasarkan urutan tata kerja
dari model pembelajaran tersebut, karena ketepatan dalam pelaksanaan akan
memberikan hasil yang maksimal, salah satunya adalah penerapan model
pembelajaran berbasis proyek atau biasa disebut dengan istilah project based learning.
Penjelasan
mengenai urutan pelaksanaan model pembelajaran berbasis proyek ini adalah :
a)
Penetapan proyek, kegiatan belajar mengajar diawali kegiatan
apersepsi berupa tanya jawab sekitar materi yang dibahas. Hal ini bertujuan
agar siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Materi yang akan
disampaikan disesuaikan dengan kondisi riil yang ada di lingkungan sekitar
siswa.
b) Merancang
rencana proyek, kegiatan perencanaan ini dilaksanakan berkoordinasi antara
guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pembelajara. Dalam perencanaan tersebut
berisikan petunjuk pada saat pembuatan proyek, kegiatan yang akan dilaksanakan,
peralatan serta bahan yang dipergunakan dalam pelaksanaan proyek tersebut.
c)
Membuat urutan kegiatan, dalam hal ini dilakukan
bersama-sama antara guru dan siswa dalam penyusunan jadwal penyelesaian proyek
dimaksud. Ketentuan waktu harus jelas, siswa diberikan pengarahan agar dapat
mengatur waktu dengan baik, langkah selanjutnya siswa diberikan kesempatan
untuk mencari hal-hal baru, dan guru bertugas memberikan arahan dan pengawasan
agar kegiatan siswa sesuai dengan tujuan proyek dan tidak keluar dari alur
tujuan proyek yang dilaksanakan.
d)
Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek. Guru
bertugas mengamati kegiatan siswa pada saat melaksanakan kegiatan proyek dengan
cara memberikan fasilitas kepada siswa pada tiap tahapan proses yang dilakukan.
Hal ini mengindikasikan bahwa guru bertugas sebagai pembimbing bagi kegiatan
siswa.
e)
Melakukan pengujian hasil, kegiatan ini dilakukan
untuk mempermudah guru dalam menilai capaian standar pembelajaran, bermanfaat
dalam melakukan penilaian terhadap perkembangan siswa, menyampaian umpan balik
mengenai daya serap materi yang telah dicapai siswa, serta dapat dijadikan
pedoman bagi guru untuk mempersiapkan teknik pembelajaran berikutnya. Untuk
memberikan penilaian terhadap produk yang dihasilkan oleh tiap-tiap kelompok
dilakukan dengan kegiatan presentasi di depan kelas di hadapan masing-masing
kelompok secara berganti-ganti sampai semua kelompok mempresentasikan hasil
prosuknya.
Melaksanakan
kegiatan evalusi terhadap pengalaman siswa, dalam hal ini guru beserta siswa
melakukan kegiatan refleksi yang dilaksanakan pada akhir kegiatan pembelajaran.
Pelaksanaan refleksi ini bisa dilakukan dengan teknik indvidual maupun
berkelompok (Soetopo, 2005:144)
Strategi
pembelajaran berbasis proyek pada tahap ini, guru memberikan proyek yang
ditugaskan kepada siswa untuk dikerjakan. Menentukan berapa lama proyek akan berlangsung
adalah fokus dari tahap ini. Pada tahap ini, guru akan menjelaskan
langkah-langkah yang terlibat dalam membuat proyek yang berkaitan dengan materi
pelajaran dan siswa akan mengembangkan rencana kegiatan yang akan diselesaikan.
Rencanakan evaluasi, dengan tahap saat ini melihat daftar guru beberapa tujuan
evaluasi dan pemilihan alat evaluasi mana yang akan digunakan. Tahap
pelaksanaan proyek ini merupakan awal dari proses pembelajaran untuk materi
pelajaran yang telah direncanakan di kelas. Tahap ini adalah hasil akhir dari
suatu forum khusus, yaitu ditulis atau menulis hal-hal yang penting dalam
proses pembelajaran.
Prosedur
penerapan pembelajaran berbasis proyek dilaksanakan dalam beberapa tahapan
yaitu :
a)
Tahapan
orientasi yaitu tahapan memunculkan motivasi belajar dari diri siswa itu sendiri
dan pemberian informasi dan pertanyaan penjelas.
b)
Tahapan perancangan yaitu tahapan pada
saat diberikan kesempatan untuk melakukan tindak lanjut dari informasi dan
pertanyaan penjelas untuk melaksanakan kegiatan merancang proyek yang akan
mereka susun. Pada tahapan ini dilaksanakan juga kegiatan menyusun agenda
kegiatan yang dijadikan dasar untuk penyelesaian proyek yang telah dirancang.
c)
Tahapan ketiga yaitu
kegiatan inti model proyek, yaitu kegiatan pelaksanaan proyek yang telah
dipersiapakan berdasarkan ketetapan waktu yang sudah disusun.
d)
Tahapan penilaian
adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk melakukan penilaian terhadap proses
pelaksanaan kegiatan proyek dan hasil kerja proyek itu sendiri. Tahapan
penilaian ini bermanfaaat sebagai feed back bagi guru untuk merancang dan
membuat konsep pembelajaran selanjutnya. Di samping itu kegiatan ini juga
bermanfaat bagi guru untuk memberitahukan tingkat efektivitas rencana dan
proses kegiatan proyek yang telah dilakukan dan sekaligus dijadikan dasar untuk
mengukur kualitas dari produk yang dihasilkan (Sutirman, 2017:81).
Dari
tahapan-tahapan di atas, ada beberapa perbedaan, tetapi tujuannya sama:
diskusikan pemberian pertanyaan yang mungkin memotivasi siswa untuk belajar,
kemudian minta siswa merencanakan sebuah proyek dengan bimbingan guru mereka. Tahapan selanjutnya adalah
membuat jadwal proyek dengan guru. Kemudian, guru memantau prosesnya. Penilaian adalah tahapan selanjutnya, digunakan
untuk menilai pengetahuan, kemampuan menerapkan, kemampuan meneliti, dan
kemampuan menerapkan keterampilan untuk membuat suatu proyek atau
pekerjaan.Tahapan selanjutnya adalah evaluasi, yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk merefleksikan pembelajaran mereka baik secara individu
maupun kolektif. Jadi model ini menunjukkan bahwa penerapan paradigma pembelajaran
berbasis proyek dapat membuat siswa menjadi bertambah aktif dan bertambah kreatif ketika merancang
produk nyata.
3)
Kelebihan dan Kekurangan
Pembelajaran Berbasis Proyek
a)
Kelebihan Pembelajaran Berbasis Proyek
Penerapan
model pembelajaran berbasis proyek ini mempunyai manfaat yang baik terhadap
guru dan siswa karena pembelajaran berbasis proyek dapat menambah minat belajar
siswa dan membuat siswa tidak hanya terfokus pada bahasan materinya saja tetapi
juga mengharuskan siswa untuk dapat menyusunnya menjadi sebuah proyek. Beberapa
kelebihan model pembelajaran berbasis proyek diantaranya :
(1) Dapat menambah
tingkat motivasi bejar siswa. Siswa menjadi bersungguh-sungguh dan
berupaya dengan sekuat tenaga untuk menyelesaikan proyek yang dilakukannya
sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan.
(2)
Menambah keterampilan siswa dalam memecahkan masalah
sehingga siswa dapat meningkatkan keaktifan belajarnya dan dapat menyelesaikan permasalahan
yang lebih komplek dalam proyek yang dilakukannya.
(3)
Meningkatkan kerjasama dan menanamkan pentingnya arti
kerja secara berkelompok dalam kegiatan proyek sehingga siswa harus bisa
mengembangkan dan menerapkan kemampuannya dalam berkomunikasi.
(4)
Menguatkan kemampuan siswa dalam pengelolaan sumber
daya yang ada, menetapkan alokasi waktu dan bahan-bahan pendukung lainnya
misalnya peralatan yang digunakan dalam kegiatan proyek.
(5)
Memacu siswa agar dapat mengupayakan perkembangan dan
kemampuan praktik dalam berkomunikasi.
(6)
Menyiapkan keahliannya dalam belajar dengan
keterlibatan siswa secara menyeluruh dan merancang dagar dapat berkembang
sesuai kenyataan yang ada
(7)
Menambah peran siswa secara aktif dalam belajar
terutama dalam pengambilan informasi dan aspek pengetahuan yang dipunyai oleh
siswa untuk selanjutkan dapat diterapkan dalam proses pembelajaran
(8)
Menciptkan kondisi belajar yang kondusif dan
menyenangkan yang dapat membuat siswa maupun guru bisa merasakan situasi
belajar yang menggembirakan. (Wena (2012:160).
Menurut
Moursund (dalam Wena
(2012:167), pembelajaran berbasis proyek meningkatkan motivasi belajar, sehingga siswa bekerja lebih
keras untuk belajar lebih banyak dan menemukan jawaban untuk memecahkan suatu
proyek. Lingkungan Berbasis Proyek membuat siswa lebih aktif dalam memecahkan
masalah yang kompleks. Untuk meningkatkan keterampilan belajar, siswa harus
dapat dengan cepat mendapatkan informasi dari banyak sumber Meningkatkan
kerjasama untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan komunikasi
Meningkatkan keterampilan pengelolaan sumber daya
b)
Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek
Hanafi
(2010) menguraikan kelemahan dari penggunaan model
pembelajaran berbasis proyek diantaranya :
(1)
Perlu banyak waktu untuk menyelesaikan masalah, bahkan jika sudah
mengalokasikan banyak waktu masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk
mendapatkan hasil terbaik.
(2)
Biaya banyak untuk membuat sebuah proyek, tetapi berapa banyak
bervariasi tergantung pada jenis proyek yang dibuat.
(3)
Ada banyak peralatan yang dibutuhkan untuk memulai proyek.
(4)
Siswa yang mengalami kesulitan dalam eksperimen dan pengumpulan data
akan mengalami kesulitan di sekolah.
(5)
Kondisi kelas sulit diatur, dan siswa yang mengganggu dapat membuat
pelaksanaan proyek yang sedang dilaksanakan
Untuk
mengatasi kekurangan pembelajaran berbasis proyek, seorang guru harus dapat
memfasilitasi pemecahan masalah siswa, membatasi waktu siswa yang dihabiskan
untuk proyek, menyediakan alat-alat sederhana yang tersedia di lingkungan
lokal, dan menumbuhkan lingkungan belajar yang menarik (Hanafiah, 2010). :160).
Dengan
demikian, setiap pendekatan pendidikan memiliki kekuatan dan kelemahannya
sendiri; tidak terkecuali model Project-Based Learning (PJBL). PJBL memiliki
potensi untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa di kelas, serta
menumbuhkan lingkungan belajar yang lebih menyenangkan. Namun, pendekatan ini
memiliki kelemahan tertentu, termasuk sejumlah besar persediaan yang
diperlukan, biaya tinggi, dan waktu yang lama untuk menyelesaikan masalah.
Siswa mungkin memiliki pengalaman belajar yang lebih bermakna dengan mengadopsi
paradigma ini.
e. Penerapan
Pembelajaran Berbasis Proyek pada Pembelajaran IPS
Pembelajaran
materi IPS masih sering dipandang membuat frustasi oleh siswa di dalam kelas.
Ini karena siswa tidak menikmati waktu mereka di kelas, yang berkontribusi pada
rendahnya rasio siswa-guru dan rendahnya nilai yang diberikan pada pendidikan
siswa (Lestari, 2021). Ketika mengajar IPS di kelas di mana penekanan hanya
ditempatkan pada penggunaan buku teks untuk mencapai tujuan kurikulum yang
harus dicapai siswa, kemungkinan besar lingkungan belajar yang menarik dan
menyenangkan bagi siswa tidak akan tercipta. Salah satu inovasi pendidikan yang
telah menunjukkan keberhasilan dalam menjadikan siswa lebih kreatif, kompetitif,
dan berorientasi pada tim (kooperatif) adalah penggunaan pembelajaran berbasis
proyek. Dalam konteks ini, model pembelajaran berbasis proyek adalah yang
terbaik untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan akademik siswa (Ahmad,
2014).
Menurut Djajadisastra
(2012), model pembelajaran berbasis proyek dapat memberikan tampilan baru pada
kelas tradisional jika strategi yang tepat digunakan. Tujuan dari pendidikan
ini adalah untuk membuat strategi pengajaran konvensional seperti kuliah dan
lembar kerja kurang umum di kelas. Siswa dalam pembelajaran berbasis proyek
melakukan penelitian (pengumpulan bukti) dengan mengajukan pertanyaan terbuka
dan menggunakan apa yang telah mereka pelajari untuk membuat produk akhir. Di
luar itu, metode pengajaran ini terkenal membingungkan.
Model
pembelajaran berbasis proyek termasuk instruksi yang berpusat pada siswa (student
centered) yang menekankan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran,
eksplorasi konten, dan konstruksi makna dari pokok bahasan yang dibahas
sehingga proses pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi juga
dapat dilaksanakan di luar kelas.
3.
Kemampuan Berpikir Kreatif
a.
Pengertian Kemampuan Berpikir Kreatif
Siswono
(2008:15) menjelaskan pendapatnya secara rinci tentang berpikir kreatif adalah kegiatan yang berasal
dari dalam diri sendiri dan digunakan dalam
pengembangan gagasan atau rencana yang
inovatif. Pendapat lain dikemukan oleh Isaksen et al. (dalam
Grieshober, 2004:181) melihat berpikir kreatif sebagai proses mengkonstruksi
sebuah ide dengan penekanan pada polesan, orisinalitas, kebaruan, dan
orisinalitasnya. Proses kreatif melibatkan sintesis ide, pengembangan ide-ide
tersebut, perencanaan implementasinya, dan penerapannya untuk menciptakan
sesuatu yang baru. Kreativitas adalah kapabilitas seseorang untuk memikirkan sesuatu yang
baru dan berbeda dari apa yang orang lain pikirkan sebelumnya. Kreativitas
siswa dalam pemecahan masalah merupakan produk dari keterampilan berpikir siswa
yang dikembangkan.
Kemampuan
untuk berpikir kreatif dada intinya adalah kecakapan yang dipunyai oleh
seseorang sebagai cara untuk mewujudkan tingkat kreativitasnya. ” Creativity begins with original thought, which invariably produces
useful and potentially groundbreaking new concepts.” (Feng,
2014:1). Penjelasan mengenai definisi kreativitas banyak dikemukakan oleh para ahli dengan
norma yang berbeda-beda. Shriki (2010:160) mendefinisikan Because of the multifaceted nature of creativity, existing definitions
tend to be imprecise at best.” yang artinya kreativitas adalah sesyau yang
kompleks sehingga tidak dapat difenisikan secara rinci dan jelas. Ahli lain
menyebutkan bahwa kreativitas memiliki berbagai arti dan interpretasi, itulah
sebabnya definisi kreativitas yang diterima secara umum tetap sulit dipahami
oleh banyak orang. Meskipun demikian, dengan mempelajari definisi kreativitas
yang ditawarkan oleh banyak ahli, kita dapat lebih dekat untuk memahami makna
sebenarnya dari kreativitas (Sriraman, 2011)
Berpikir
kreatif untuk menghasilkan jawaban yang lebih luas dan bervariasi. Kreativitas
dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali hubungan yang sebelumnya
tidak disadari antara ide-ide dan menciptakan kombinasi baru dari dua atau
lebih ide yang dikembangkan sebelumnya. Berpikir kreatif dapat disimpulkan
sebagai kemampuan untuk menghubungkan ide-ide dengan cara-cara baru atau untuk
melihat yang sesuatu melalui cara pandang yang baru. (Susanto, 2013: 109).
Setiap orang
dilahirkan dengan kemampuan bawaan untuk menggunakan serangkaian pengalaman dan
perspektif unik mereka sendiri untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar baru.
Terkadang pemikiran kreatif dilihat sebagai upaya untuk menjalin hubungan
antara hal-hal yang sebelumnya tidak berhubungan. (Rawlinson, 1989:11). Hal ini menanamkan gagasan bahwa
individu yang kreatif dapat mempertahankan sikap serius terhadap masalah hidup
yang paling mendesak (Munandar, 2009:33).
Seseorang dalam
keadaan pikiran ini dapat melihat masalah dengan cara yang segar, orisinal, dan
mungkin inovatif. Menurut Krulik dan Rudnik (dikutip dalam Saefudin, 2012:40),
berpikir kreatif merupakan salah satu tingkat berpikir yang tertinggi.
Tingkatan tersebut adalah sebagai berikut: mengingat kembali, berpikir dasar,
berpikir kritis, dan berpikir kreatif (berpikir kreatif). Mengingat yang lebih
tinggi dari dua hukuman (penalaran). Sedangkan berpikir pada tingkat yang lebih
tinggi, berpikir lebih mendasar, dan berpikir lebih tinggi (high order
thinking).
Berpikir
kreatif, sebagaimana dijelaskan oleh Guilford (sebagaimana dikutip dalam Azhari
dan Somakim, 2013), adalah wujud dari bentuk opini yang selama ini belum
memperoleh atensi yang baik pada ranah bidang pendidikan. Kemampuan berpikir kreatif dicirikan
empat ciri, menurut Munandar (sebagaimana dikutip dalam Azhari dan Somakim,
2013): harapan, rasa ingin tahu, kejernihan berpikir, dan ketepatan dalam
mengembangkan suatu gagasan.
Dari perspektif
yang berbeda ini, kita dapat menyimpulkan bahwa berpikir kreatif adalah
kemampuan untuk menanggapi peluang yang muncul dan menghasilkan hasil baru, untuk pribadi
secara personal ataupun bagi komunitas di luaran.
b.
Indikator pada Kemampuan Berpikir Kreatif
Orang yang mempunyai cara
pikir yang kreatif lebih condong mempunyai pola pikir yang lebih
inovatif, bebas dan bercabang-cabang dengan berbagai pilihan dan alternatif
respon dan reaksi pada permasalahan yang dihadapinya (Rawlinson, 1974:12).
Menurut
Munandar (2012) berpikir kreatif memerlukan sejumlah karakteristik, antara lain
kemampuan berpikir abstrak, terbuka terhadap ide-ide baru, mencari pengalaman
baru, dan tahan terhadap klise (dalam Andrianto, 2013:116). Wawasan Johnson lainnya adalah
bahwa berpikir kreatif memerlukan langkah-langkah berikut: memunculkan permasalahan, mempergunakan
logika pikir dalam menerima suatu informasi yang bersifat baru, menjalin sebuah
hubungan, mentautkan bermacam-macam permasalahan secara terbuka,
mempergunakan visi yang
jelas, dan mampu
beradaptasi secara naluriah (Alwasilah, 2002). Selain itu, orang-orang kreatif memiliki keterampilan
seperti keluwesan,
keaslian, penjabaran, dan campuran.
Dalam
penelitian ini, kami memodifikasi indikator terkait kreativitas tipe
kepribadian Munandar, yaitu kekokohan, kemampuan beradaptasi, dan orisinalitas. Penjelasan
mengenai indikator berpikir kreatif menurut pendapat Munandar (2012) diuraikan
pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Indikator Kemampuan Berpikir
Kreatif
|
Pengertian
|
Perilaku
|
|
Berpikir Lancar (Fluency)
1. Mencetuskan
banyak gagasan,
jawaban, penyelesaian masalah
atau jawaban.
2. Memberikan
banyak cara atau
saran untuk melakukan berbagai
hal.
3. Memberikan
banyak cara atau
saran untuk melakukan berbagai
hal.
4. Selalu
memikirkan lebih dari satu
jawaban
|
a. Mengajukan
banyak pertanyaan.
b. Menjawab
dengan sejumlah
jawaban jika ada pertanyaan.
c. Mempunyai
banyak gagasan
mengenai suatu masalah.
d. Lancar
mengungkapkan gagasan
gagasannya.
e.
Bekerja lebih cepat dan
melakukan lebih banyak dari
orang lain
|
|
Berpikir Luwes (Flexibility)
1. Menghasilkan
gagasan, jawaban,
atau pertanyaan yang bervariasi.
2. Dapat
melihat suatu masalah dari
sudut pandang yang berbeda.
3. Mencari
banyak alternatif atau
arah yang berbeda-beda
|
a.
Memberikan bermacam-macam
penafsiran terhadap suatu gambar,
cerita atau masalah.
b.
Menerapkan suatu konsep atau
asas dengan cara yang berbeda-beda.
c.
Jika diberi suatu masalah
biasanya memikirkan bermacam
macam cara yang berbeda untuk
menyelesaikannya.
|
|
Berpikir Original (Originality)
1.
Memberikan gagasan yang baru
dalam menyelesaikan masalah
atau memberikan jawaban yang
lain dari yang sudah biasa dalam
menjawab suatu pernyataan.
2.
Mampu membuat kombinasi yang tak
lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur
|
a.
Memikirkan masalah-masalah
atau hal yang tidak terpikirkan
orang lain.
b.
Mempertanyakan cara-cara yang
lama dan berusaha me-mikirkan
cara-cara yang baru.
c.
Memilih cara berpikir yang lain
daripada yang lain.
|
|
Berpikir Elaborasi (Elaboration)
1.
Mampu memperkaya dan
mengembangkan suatu gagasan
orang lain.
2.
Menambah atau merinci detail
detail dari suatu gagasan sehingga
menjadi lebih menarik
|
a.
Mencari arti yang lebih
mendalam terhadap jawaban atau
pemecahan masalah dengan
melakukan langkah-langkah terperinci.
b.
Mengembangkan atau memperkaya
gagasan orang lain.
c.
Menambah garis-garis, warna
warna, dan detail detail (bagian
bagian) terhadap gambarnya sendiri
atau gambar orang lain
|
Dengan
mempelajari proses berpikir kreatif dan banyak pengaruh di dalamnya, seseorang
dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif mereka melalui latihan.
Keterampilan pemecahan masalah yang kreatif dapat membantu siswa di kelas
meningkatkan nilai, hasil belajar, dan nilai akademis mereka secara
keseluruhan. Oleh karena itu, kebebasan intelektual sangat penting untuk
menumbuhkan kreativitas, di mana siswa merasa aman mengemukakan ide-ide baru di
kelas. Dua sudut dapat digunakan untuk menguji kemampuan berpikir kreatif.
Pendekatan pertama melibatkan memperhatikan tanggapan siswa saat mereka bekerja
untuk memecahkan masalah matematika, sebuah proses yang sering dianggap
termasuk pemikiran kreatif. Langkah kedua adalah menentukan kriteria pemecahan
masalah yang berhasil yang mungkin dikaitkan dengan pemikiran kreatif. Setelah
membaca uraian di atas, Anda harus dapat menarik kesimpulan bahwa berpikir
kreatif adalah kemampuan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan kombinasi
pemikiran yang jelas, unik, dan terperinci untuk menemukan solusi.
c. Kemampuan
Berpikir Kreatif dalam Pembelajaran IPS
Sebagian besar
pembelajaran bisa digunakan sebagai alat peningkatan kreativitas siswa.
Pertanyaannya adalah bagaimana sebaiknya guru mengatur pelajaran mereka untuk
memberikan pendekatan baru untuk pendidikan. Pembelajaran IPS dapat digunakan
sebagai sarana untuk menumbuhkan kreativitas. Pembelajaran menggunakan kerangka
IPS sangat meningkatkan kapasitas siswa untuk berpikir logis, kritis,
berorientasi pada detail, sistematis, kreatif, dan orisinal.
Ruseffendi
(1988) menegaskan ide ini, dengan alasan bahwa pemahaman manusia terdiri dari
beberapa kemampuan mental yang berbeda: kecepatan memproses informasi,
ketepatan tata bahasa, memori semantik, kesadaran spasial, kelancaran verbal,
dan kapasitas untuk memahami dan mengkomunikasikan ide-ide yang kompleks secara
lisan. Empat dari kemampuan mental ini kecepatan pemrosesan, kemampuan untuk
menghukum, kesadaran spasial, dan keterampilan observasi memiliki korelasi
langsung dengan pengajaran IPS. Perkembangan imajinasi siswa sangat bergantung
pada kemampuan kognitif tersebut. Mengingat bahwa keempat kemampuan kognitif
ini sangat terkait dengan pengajaran IPS, maka IPS memiliki potensi untuk
mendorong proses berpikir inovatif siswa. Penggunaan model pembelajaran dalam
pendidikan IPS juga merupakan praktik yang umum, yang dimaksudkan untuk
menginspirasi siswa untuk berpikir kreatif sambil menyerap materi pelajaran.
Ada kemungkinan
bahwa model pembelajaran yang berbeda dapat membantu siswa mengembangkan
keterampilan berpikir kreatif mereka, karena siswa yang menggunakan model ini
akan dapat memanipulasi jalan mereka dari satu ide ke ide lainnya. Ada berbagai
pendekatan pedagogis mutakhir yang dapat digunakan untuk mengajar IPS, seperti
model pembelajaran berbasis masalah, model pembelajaran berbasis proyek, model inkuiri, model
kooperatif, dan model berpikir kritis dan kreatif. Dalam konteks ini,
Ruseffendi (1988) menekankan perlunya menghindari jatuh kembali pada metode
mencoba-dan-benar untuk mendidik siswa kreatif (tes baku misalnya). Karena tes
semacam itu ideal bagi mereka yang suka berkompromi dengan kriteria penetapan
pertanyaan, dan karena pertanyaan semacam itu cenderung memunculkan hal
terburuk dalam diri kreatif seseorang. Pendapat selanjutnya mengatakan bahwa kita dapat
melengkapi metode yang disebutkan di atas untuk memelihara individu kreatif
dengan terlibat dalam kelas, diskusi, proyek dalam pemecahan masalah.
Pemecahan masalah
dengan cara yang dijelaskan oleh Ruseffendi harus dianggap sebagai alternatif
metode pengajaran tradisional, khususnya dalam konteks pendidikan IPS.
Menerapkan model pembelajaran pemecahan masalah untuk pengajaran IPS dapat
memicu rasa ingin tahu dan motivasi siswa, menumbuhkan kapasitas mereka untuk
pemikiran orisinal dan memberikan berbagai jawaban, dan memperluas wawasan
mereka secara intelektual.
B. Penelitian Terdahulu
1.
Puspita (2019). Para
peneliti akan menggunakan pendekatan kuasi-eksperimental dengan kelompok
kontrol yang tidak setara untuk melakukan studi mereka. Temuan penelitian adalah
sebagai berikut: setelah tes awal diberikan untuk membandingkan kemampuan
berpikir kreatif siswa dalam kelompok eksperimen dan kontrol, tes kedua
diberikan untuk mengukur seberapa banyak siswa tersebut telah meningkat: tes
ini, yang disebut tes "keuntungan". . Namun, sebagian besar
peningkatan berasal dari penghitungan Uji Gain. Peneliti menemukan bahwa siswa
di kelas eksperimen menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kreatifnya
sekitar 0,5031, menempatkan peningkatan ini dalam kategori “sedang”.
2.
Aulia (2020). Peneliti menggunakan teknik
yang dikenal sebagai penelitian kuasi-eksperimental, yang melibatkan
pelaksanaan eksperimen di mana penempatan subjek ke dalam kelompok pembanding
bersifat arbitrer daripada acak. Temuan studi tentang kemampuan berpikir
kreatif meliputi pemikiran "lancar", pemikiran "fleksibel",
pemikiran "asli", dan pemikiran "intens" (elaborasi). Temuan
penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang diajar menggunakan model
Pembelajaran Berbasis Proyek (PJBL) mendapat skor 82,61 pada Skala Kreativitas,
sedangkan mereka yang diajar menggunakan pendekatan pedagogis yang lebih
tradisional mendapat skor 55,24. Artinya penggunaan paradigma Project Based
Learning (PJBL) berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif
siswa.
3.
Muhammad (2022). Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental
dengan single-group pretest and posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kemampuan berpikir kreatif siswa rata-rata bernilai 60,96 sebelum menggunakan
model berbasis proyek dan 85,38 sebelum menggunakan model berbasis proyek. Penulis penelitian ini menarik
kesimpulan bahwa metodologi pembelajaran berbasis proyek secara signifikan
meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa.
4.
Febriyanti. 2020. Eksperimen semu
adalah metode pilihan. Penelitian ini menggunakan Matching Only
Pretest-Posttest Design untuk kelompok kontrolnya. Temuan penelitian
menggunakan format tes tertulis meliputi kategori untuk "kelancaran
berpikir", "fleksibilitas pemikiran", "orisinalitas
pemikiran", "elaborasi pemikiran", dan "penilaian
pemikiran" (evaluasi). Deskripsi proyek buku pop-up menggunakan daftar
periksa tahapan dalam pengembangan dan penyelesaian proyek. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa model pedagogik Project Based Learning (PJBL) berpengaruh
signifikan terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa selama penerapan
kurikulum IPA di kelas lima Kurikulum Dasar Nasional Indonesia. Kajian ini juga
berhasil menghasilkan prototipe buku pop-up dua dimensi yang berpengaruh pada
dimensi fluid intelligence, adaptability, dan inovatif thinking (originality).
5. Kusadi. 2020. Studi dilakukan
dengan menggunakan desain eksperimen komprehensif dengan kelompok kontrol
posttest-only. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) model pembelajaran
berbasis proyek berpengaruh positif terhadap keterampilan sosial dan kemampuan
berpikir kreatif siswa, (2) model pembelajaran berbasis proyek berpengaruh
positif terhadap keterampilan sosial siswa, dan (3) model pembelajaran berbasis
proyek berpengaruh positif terhadap siswa ' keterampilan sosial. Model
pembelajaran berbasis berpengaruh positif terhadap keterampilan sosial siswa. Kemampuan siswa untuk berpikir
kreatif dipengaruhi oleh paradigma pendidikan yang dihadapinya. Kurikulum
pembelajaran berbasis proyek menggabungkan semua sumber daya intelektual dan
sosial yang diperlukan untuk memecahkan masalah dunia nyata. Guru yang mahir
dalam paradigma pendidikan ini akan menggunakannya untuk keuntungan mereka di
kelas, membawa hasil belajar yang lebih baik bagi siswa mereka dan kepuasan
kerja yang lebih besar untuk diri mereka sendiri.
6.
Niswara. 2019. Tes dan Dokumentasi adalah
metode pengumpulan data yang digunakan dalam proses penelitian. Hasil analisis
akhir dari uji normalitas menunjukkan bahwa sampel diambil dari populasi yang
berdistribusi normal. Saat menghitung skor akhir ujian, Anda mendapatkan harga
$9,3303. Namun, harga akhir ujian adalah $2,059.5 karena fakta bahwa >, oleh
karena itu hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Oleh karena
itu, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan. Oleh karena itu,
mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis yang tinggi di semua bidang
mata kuliahnya. Persatuan dan Kesatuan Negeriku siswa yang mendapat perlakuan
dengan menggunakan model indah. Alat pemecahan teka-teki berbasis media yang
lebih diuntungkan dari fondasi proyek daripada yang tidak
7.
Erika. 2015. Metode penelitian yang
digunakan adalah eksperimen, dan berbentuk eksperimen semu dengan menggunakan
jenis nonequivalent control group design. Hasil penelitian berdasarkan sampling
statistik menunjukkan bahwa siswa di kelas eksperimen mendapat nilai rata-rata
76,7 pada penilaian pasca pelajaran. Hasil uji histeria adalah 3.563 (thitung
> ttabel), dan hasilnya telah dilaporkan secara resmi. Perkiraan ukuran
dampak menghasilkan nilai 1,14 (tinggi). Ini berarti bahwa siswa kelas lima di
SDN 30 Pontianak di bagian selatan Indonesia sangat diuntungkan dengan
menggunakan metodologi pembelajaran berbasis proyek.
8.
Manurung (2020), Hipotesis
berikut telah digunakan dalam penelitian ini: Kemampuan berpikir kreatif
mempengaruhi kinerja siswa di kelas matematika (1), motivasi siswa mempengaruhi
kemampuan berpikir kreatif mereka (2), latar belakang pengetahuan siswa
mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif mereka ( 3), pemahaman konsep dan
argumen siswa (4), dan empati siswa mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif
mereka (5). Temuan studi ini menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kreatif
siswa mungkin memiliki dampak yang signifikan terhadap nilai matematika mereka
di kelas lima hingga kelas tujuh, dan hasil verifikasinya menunjukkan bahwa
keterampilan ini merupakan prediktor yang sangat signifikan untuk keberhasilan
akademik.
9.
Santosa (2017). Penelitian ini
merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan prosedur desain eksperimen
yang dikenal dengan perlakuan level 2x2. Hasil tes sejarah diukur dengan
menggunakan tes ganda soal pilihan ganda, sedangkan tes berpikir kreatif
menggunakan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) siswa yang
mengikuti metode pembelajaran pemecahan masalah mengungguli siswa yang belajar
menggunakan metode tradisional, dan 2) terdapat korelasi antara metode
pembelajaran pemecahan masalah dengan keterampilan berpikir kreatif siswa.
Siswa yang mengikuti pembelajaran sejarah dengan metode pemecahan masalah
memiliki hasil belajar yang lebih baik daripada siswa yang mengikuti
pembelajaran sejarah dengan metode tradisional, meskipun kedua kelompok
tersebut memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif yang tinggi. Hasil belajar
sejarah pada siswa yang mengikuti strategi pembelajaran konvensional namun
memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif rendah lebih buruk dibandingkan
dengan siswa yang mengikuti strategi pembelajaran konvensional namun memiliki
tingkat kemampuan berpikir kreatif rendah.
10. Kristania (2016). Menganalisis
hipotesis penelitian menggunakan uji F dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa (1) terdapat hubungan yang signifikan antara keterampilan berpikir
kreatif dan keterampilan berpikir positif dengan prestasi belajar matematika
siswa; (2) ada hubungan yang signifikan antara kemampuan berpikir kreatif siswa
dengan prestasi belajar matematika; dan (3) ada hubungan yang signifikan antara
kemampuan berpikir kreatif siswa dengan prestasi belajar matematika. Penelitian
membahas tentang pengaruh paradigma pembelajaran berbasis proyek terhadap
kemampuan berpikir kreatif siswa; sebaliknya, penelitian penulis sendiri hanya
berfokus pada satu variabel.
11. Sahwari (2020). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa mempengaruhi
kinerja akademik mereka, dengan peningkatan besar dalam kinerja dikaitkan
dengan kemampuan berpikir kreatif yang lebih besar (diukur dengan analisis
regresi sederhana) terhitung 14,49% dari varian kinerja akademik.
C. Kerangka Pikir
Proses berpikir diwakili secara konseptual
oleh model berapa banyak faktor
yang telah diidentifikasi sebagai isu sentral dan bagaimana faktor-faktor ini
berhubungan dengan kerangka teori yang bersaing. Hasil belajar siswa ditentukan
oleh faktor-faktor yang berasal dari itu sendiri dan eksternal yang dapat
mencari guru atau pendekatan pedagogik yang digunakan. Keberhasilan akademik
siswa sangat didorong oleh faktor ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk
menguji pengaruh pedagogi Project-Based Learning (PJBL) dan kemampuan berpikir
kreatif siswa terhadap kinerja siswa pada tes kurikulum IPS di SDN Tigaraksa.
Langkah pertama dalam proses
pendidikan akan memberikan Pretest untuk kedua kelompok pada hari yang sama
dengan pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda untuk mengukur titik awal
siswa dalam hal pengetahuan dan kemampuan sebelum memberikan pekerjaan rumah.
Dimungkinkan untuk menemukan siswa dengan tingkat kemampuan berpikir kreatif
tinggi dan rendah baik dalam kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.
Setelah penyerahan hasil Pretest akan ditentukan kelompok eksperimen dan
kontrol, dengan kelompok eksperimen diajar menggunakan metode Project Based
Learning (PJBL) dan kelompok kontrol diajar dengan cara yang lebih konvensional
(seperti kuliah dan tugas rumah). Setelah pembagian tugas kepada kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol, akan diberikan Posttest kepada siswa di kedua
kelompok untuk mengetahui apakah penggunaan kerangka pedagogis Pembelajaran
Berbasis Proyek (PJBL) dan kemampuan berpikir kreatif siswa atau tidak.
mempengaruhi kinerja mereka pada Standar Kinerja Individu (IPS).
Penjelasan mengenai kerangka
pikir yang menjadi pedoman dalam kegiatan penelitian ini dapat dijelaskan
dengan beberapa pernyataan yaitu :
1. Adanya pembeda
antara hasil belajar siswa dengan penggunaan model berbasis proyek dibandingkan
dengan siswa menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah dan penugasan) pada
pembelajaran IPS.
2. Adanya temuan
hasil penelitian tentang pengaruh kemampuan berfikir kreatif pada hasil belajar siswa pada pembelajaran
IPS.
3. Ditemukan
adanya pengaruh interaksi antara model pembelajaran berbasis proyek dan
kemampuan berpikir kreatif pada hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS.
Adapun bagan dari kerangka pikir
pada kegiatan pembelajaran pada kelas yang diteliti (eksperimen dan kontrol)
sebagaimana gambar di bawah ini :
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
D. Operasionalisasi Variabel
Penjelasan tentang variabel yang
digunakan pada kegiatan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Variabel
Independen (X1) adalah model pembelajaran berbasis proyek
2. Variabel
Moderat (X2) adalah kemampuan berpikir kreatif
3. Variabel
Terikat (Y) adalah hasil belajar siswa
Sejauh
mana seorang siswa telah belajar diukur dengan kualitas ujian akhir atau ujian
yang diberikan pada akhir program studi atau semester. Hasil belajar yang
dicapai seorang siswa bergantung pada proses belajar yang dijalaninya. Siswa
yang berprestasi baik di sekolah adalah
mereka yang memenuhi tujuan pembelajaran mereka dan tujuan tambahan apa pun
yang ditetapkan guru mereka untuk mereka; dalam penelitian ini, "hasil
belajar" mengacu pada setiap perubahan dalam kemampuan kognitif, afektif,
atau psikomotorik siswa yang tercermin dalam nilai atau nilai ujian mereka.
Keberhasilan
atau kegagalan akademik seseorang dapat dikaitkan dengan sejumlah penyebab yang
berbeda, beberapa di antaranya ada di dalam diri siswa itu sendiri (faktor
internal) dan yang lainnya terletak di luar mereka (faktor eksternal) (faktor
eksternal). Faktor dalam diri siswa itu sendiri, seperti minat, semangat,
pemahaman, dan motivasi, serta kemampuan kognitif seperti persepsi, memori,
penalaran, dan pengetahuan dasar. Lingkungan siswa, yang meliputi fasilitas fisik sekolah, bahan ajar, outlet
media, guru, dan konten kursus, serta metode pengajaran dan pendekatan
pedagogis, semuanya dianggap sebagai
faktor eksternal.
Karena
kesulitan-kesulitan yang dialami guru dalam melaksanakan tanggung jawabnya dan
siswa dalam belajar, maka model pendidikan sering diajukan sebagai sarana
penyelesaian masalah tersebut. Keefektifan dari setiap model pembelajaran yang
diberikan sangat bergantung pada hasil pembelajaran yang diinginkan; dengan
demikian, yang satu ini akan membantu instruktur dalam mencapai tujuan yang dinyatakan
untuk siswa mereka.
Pembelajaran
berbasis proyek memungkinkan guru untuk mengatur instruksi kelas dengan
menggunakan proyek siswa. Pekerjaan proyek adalah jenis pekerjaan khusus yang
memerlukan beberapa tanggung jawab kompleks berdasarkan pertanyaan dan masalah
yang menarik, dan yang memotivasi siswa akademik untuk berpikir kritis,
memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan penelitian, dan bekerja secara
mandiri. Ada empat komponen kemampuan berpikir kreatif: orisinalitas,
orisinalitas bentuk, orisinalitas pemikiran, dan kemampuan mengelaborasi atau
tepat ketika mengembangkan sebuah ide.
E. Hipotesis
Berdasarkan penjelasan secara rinci pada kajian teori dan kerangka pikir
penelitian sebagaimana di atas maka penulis mengemukakan hal yang berkaitan dengan hipotesis penelitian diantaranya :
Ho1 : Tidak terdapat pengaruh model
pembelajaran berbasis proyek terhadap hasil belajar siswa pada mata
pelajaran IPS Kelas IV SDN .......................
Ha1 : Terdapat pengaruh model
pembelajaran berbasis proyek terhadap hasil belajar siswa pada mata
pelajaran IPS kelas IV SDN .......................
Ho2 : Tidak terdapat pengaruh
kemampuan berfikir kreatif terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS
kelas IV SDN .......................
Ha2 : Terdapat
pengaruh kemampuan berfikir kreatif terhadap hasil
belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV SDN .......................
Ho3 : Tidak terdapat Pengaruh interaksi model pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan berfikir kreatif terhadap hasil
helajar hiswa hada mata pelajaran IPS kelas IV SDN .......................
Ha3 : Terdapat
Pengaruh interaksi model pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan berfikir kreatif terhadap hasil
belajar sswa pada pata pelajaran IPS kelas IV SDN ......................
Berdasakan
uraian tersebut, maka dapat ditentukan hipotesis dari penelitian ini yaitu :
1. Ditemukan pengaruh model pembelajaran
berbasis proyek terhadap hasil belajar siswa kelas IV SDN ...................... pada mata
pelajaran IPS.
2. Ditemukan pengaruh kemampuan
berfikir kreatif terhadap hasil belajar siswa kelas IV SDN ...................... pada mata
pelajaran IPS.
3.
Ditemukan pengaruh
interaksi model pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan berfikir kreatif
terhadap hasil belajar siswa kelas IV SDN ...................... pada mata
pelajaran IPS.
Untuk mendapatkan file secara lengkap terdiri dari BAB I, II, IV, V, lampiran2 serta halaman depan silahkan klik disini